October 30, 2013

The Act of Killing (2012)

Peristiwa G30S/PKI adalah salah satu peristiwa kelam yang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia. Sampai-sampai film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer pada masa orde baru dijadikan sebagai film yang wajib diputar setiap tahunnya pada tanggal 30 September di stasiun televisi Indonesia. Dan sekarang sutradara bernama Joshua Oppenheimer mencoba menghadirkan kembali seperti apa dibalik peristiwa pahit tersebut lewat The Act of Killing.

The Act of Killing atau yang mempunyai judul Indonesia, Jagal, sebuah film dokumenter yang mengisahkan tentang Anwar Congo dan kawan-kawan, mereka yang dulunya tahun 1965 di Medan adalah tukang karcis bioskop sekaligus preman – dalam film ini mereka sering menyebutnya free man – yang membantai orang-orang yang diyakini PKI. Mereka menceritakan bagaimana dulu mereka membantai, membunuh, menyiksa korban-korban mereka, hingga sampai melakukan reka ulang kejadiannya. Bagaimana cara dan metode membunuh mereka disampaikan dengan rasa bangga oleh Anwar dkk, seakan seperti seorang superhero.

October 28, 2013

Forrest Gump (1994)

“Life is like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” – Forrest Gump

Forrest Gump mengisahkan tentang Forrest Gump (Tom Hanks) yang duduk ditempat menunggu bus. Ketika ada orang yang duduk disebelahnya, dia pun menceritakan kehidupan masa lalunya. Dia seorang yang mempunyai keterbelakangan mental, tidak ada yang mau berteman dengannya. Sampai seorang wanita bernama Jenny (Robin Wright) mau berteman dengannya. Forrest begitu mencintai Jenny hingga mereka beranjak dewasa. Forrest dewasa adalah seorang tentara, namun dia juga banyak mengalami profesi, mulai dari atlek futbol, tenis meja, nelayan, pelari.

Diangkat dari novel karya Winston Groom berjudul sama, naskah ceritanya ditulis oleh Eric Roth dan disutradarai Robert Zemeckis. Yang membuat saya ingin menonton film ini adalah adanya fakta bahwa film ini berhasil mengalahkan dua film favorit sepanjang masa saya, yakni The Shawshank Redemption dan Pulp Fiction di Best Picture Oscar 1994. Lantas saya sangat penasaran dengan film ini, sebegitu bagusnya ‘kah. Well, Forrest Gump bisa dibilang memiliki semua sajian paket lengkap dari sebuah drama inspiratif. Formula-formula seperti, pantang menyerah, siapa pun bisa melakukannya, dll. Ada yang berhasil menggungah simpati penonton namun ada juga yang malah terasa overdramatic. Ya, banyak dramatisasi yang terkesan berlebihan, bahkan juga terkesan serba kebetulan, too good to be true. Saya tidak bilang Forrest Gump itu jelek, bagus malah. Ya saya cuma kurang setuju aja film ini mengalahkan masterpiece-nya Darabont dan Tarantino itu. Saya begitu menikmati dan sama sekali tidak merasa bosan selama menonton Forrest Gump.

October 23, 2013

Captain Phillips (2013)

The navy is not gonna let you win! They would rather sink this boat, then let you win.” – Captain Phillips

Captain Phillips mengisahkan tentang Kapten Richard Phillips (Tom Hanks), seorang yang harus meninggalkan istri dan anaknya untuk memimpin awak kapal kargonya demi melaksanakan tugas. Suatu ketika kapal mereka dibajak oleh sekelompok perompak bersenjata dari Somalia yang dipimpin oleh Muse (Barkhad Abdi), lalu mereka menyandera sang kapten dengan niatan untuk ditukar dengan uang. Lantas, apakah Kapten Phillips bisa lepas dari penyanderaan itu dengan selamat? Atau sebaliknya?

Disutradarai oleh Paul Greengrass dan naskah cerita ditulis oleh Billy Ray dengan mengangkat ceritanya dari memoir-nya Captain Phillips yang asli, A Captain’s Duty: Somali Pirates, Navy SEALS, and Dangerous Days at Sea. Ya, film ini diangkat dari peristiwa nyata pada April 2009 lalu. Well, jika melihat track record sang sutradara yang sudah pernah membuat action-thriller bagus, sebut saja United 93, 2 seri Bourne, dan Green Zone. Di film terbarunya ini, Greengrass kembali hadir untuk mengaduk-aduk adrenalin dan emosi penontonnya lewat Captain Phillips, tanpa ada unsur dramatisasi yang kelewat lebay. Terlepas dari opening-nya yang hanya memperkenalkan sosok Kapten Phillips, setelah itu film ini berjalan dengan tensi yang cepat sampai akhir, memicu adrenalin, seakan tidak memberikan nafas untuk para penontonnya. Mengusung juga tema kekeluargaan dalam dosis kecil.

October 17, 2013

The Shawshank Redemption (1994)

Sebenarnya dulu sudah pernah nonton film ini. Tapi entah kenapa pengen re-watching dan nge-review ini.

The Shawshank Redemption mengisahkan tentang Andy Dufresne (Tim Robbins) yang masuk penjara akibat tuduhan membunuh istri sendiri karena selingkuh. Pada awalnya dia sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya itu. Sampai dia bertemu lalu berteman dengan tahanan lain bernama Ellis “Red” Redding (Morgan Freeman), seorang yang bisa menyelundupkan barang ke dalam penjara.
Alasan terbesar saya dalam menonton film ini adalah jelas adanya fakta bahwa film ini bertengger di perangkat pertama di salah satu situs rating film, IMDB, dengan rating 9.3/10 (saat saya menulis review ini). Disutradarai dan ditulis oleh Frank Darabont yang mengadaptasi novelnya Stephen King berjudul Rita Hayworth and Shawshank Redemption. Film yang berdurasi dua jam lebih ini berjalan dengan tempo yang cukup lambat namun efektif membangun cerita. Hingga pada bagian akhirnya yang kita tidak tahu bahwa ending-nya akan berakhir dengan twist. Juga dengan begitu nyata menggambarkan realita pahit-manisnya kehidupan penjara. Lalu The Shawshank Redemption juga sarat dengan pesan moral yang sangat bagus, dari setiap adegan, dialog ataupun narasinya mempunyai nilai-nilai tersendiri. Dalam durasi 2 jam lebihnya, sama sekali tidak terasa membosankan.

October 16, 2013

Short Review: Fast & Furious 6 (2013), Oz the Great and Powerful (2013), Star Trek Into Darkness (2013), World War Z (2013)

Pertama kalinya bikin quick review, saya akan mengisinya dengan postingan review pendek dari film-film musim panas lalu yang ingin sekali saya tonton tapi tidak sempat karena berbagai macam masalah. Alasannya klise, mulai dari terhalang gara-gara tugas kuliah yang menumpuk. Hingga beberapa film yang tanggal rilisnya keluar bersamaan, akhirnya saya harus merelakan salah satu. So, berikut short review dari Fast & Furious 6, Oz the Great and Powerful, Star Trek Into Darkness dan World War Z.

October 8, 2013

Gravity (2013)

Alfonso Cuarón, sutradara yang terkenal lewat film Children of Men tujuh tahun lalu. Dan tahun ini kembali hadir lewat film terbarunya, Gravity.

Gravity mengisahkan tentang dua astronot; Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalski (George Clooney) yang sedang berada dalam misi perjalanan ke luar angkasa. Sialnya, karena suatu hal salah satu satelit lain yang berada disana meledak. Yang ternyata kejadian tersebut berakibat buruk ketika puing-puing satelit yang hancur tersebut menabrak pesawat ulang alik milik Stone dan Kowalski. Akibatnya, mereka berdua pun terpisah dan harus berjuang sendiri-sendiri bertahan hidup serta menghadapi sederetan kejadian buruk lain.

Luar biasa. Mungkin kata itulah yang cukup menggambarkan keseluruhan film ini. Gravity disutradarai oleh Alfonso Cuarón yang juga sekaligus menulis naskah ceritanya bersama puteranya, Jasón Cuarón. Naskahnya sederhana saja sebenarnya bisa dipersingkat menjadi, dua astronot bertahan hidup di luar angkasa. Namun tidak hanya bercerita mengenai survival, ada studi karakter juga disini. Well, hanya dengan satu setting, dua astronot, dan jalan cerita yang simple. Diperlukan seorang sutradara dengan visi kuat untuk dapat mengeksekusinya menjadi sebuah presentasi yang begitu membuai dan melampaui kualitas dasar ceritanya.

October 7, 2013

Pulp Fiction (1994)

Pulp Fiction mengisahkan tentang dua orang pembunuh bayaran; Vincent Vega (John Travolta) dan Jules Winnifield (Samuel L. Jackson) yang bekerja untuk Marsellus Wallace (Ving Rhames). Disisi lain, Vincent juga punya tugas lain untuk melindungi istri Marsellus, Mia (Uma Thurman). Disisi lain lagi, Marsellus tengah mencari seorang petinju bernama Butch (Bruce Willis), yang telah membunuh salah satu orangnya.

Film ini adalah karya kedua dari Quentin Tarantino setelah Reservoir Dogs (1992) yang mendapat respon positif itu. Di karyanya yang kedua ini dia juga kembali menuai banyak pujian. Masuk 6 nominasi Oscar tahun 1995 termasuk Best Picture dan Best Director. Namun hanya satu piala yang mereka bawa pulang yakni Best Original Screenplay. Dan 3 nominasi lain ada pada kategori akting. Selain itu juga film ini mendapat Palme d’Or di Cannes Film Festival. Tidak hanya suskes dari segi kritikal, tapi juga dari segi pendapatan. Dengan budget hanya sekitar $8,5 juta, Pulp Fiction berhasil meraup pendapatan diseluruh dunia $200 juta.

Naskah ceritanya ditulis sendiri oleh Quentin Tarantino bersama Roger Avary. Pulp Fiction berjalan secara non-linear, yang mungkin akan membuat bingung bagi beberapa orang. Seperti yang pernah kita lihat di karya Tarantino lain, film-filmnya itu anti-mainstream, tidak konvensional, dan mengusung semagat indie. Penuh dengan dialog-dialog ekletik yang nyeleneh bernada kasar, menggabungkan antara kekerasan dan humor, serta menyindir budaya pop. Dalam durasi 154 menitnya, Pulp Fiction punya banyak karakter dan momen-momen yang memorable bahkan mengejutkan. Sebut saja, adegan menari, adegan perampokan, ah masih banyak lagi. Apalagi scene-scene yang melibatkan duo Vincent-Jules.

October 6, 2013

Rush (2013)

“A wise man can learn a lot from his enemies, rather than a fool from his friends” – Niki Lauda

Rush mengisahkan tentang persaingan sengit antara dua pembalap Formula 1, James Hunt (Chris Hemsworth) dan Niki Lauda (Daniel Bruhl). Dimulai ketika mereka berdua masih di arena Formula 3, rivalitas semakin tinggi ketika mereka di F1. Hunt dibawah naungan McLaren dan Lauda di Ferrari. Lantas dimulailah persaingan dalam menggapai gelar juara dunia balapan super cepat ini. Disisi lain, mereka juga harus menghadapi sederet masalah hidup mereka diluar arena.

Mengangkat film mengenai Formula One memang bukan yang pertama kalinya bagi Rush dikancah perfilman dunia. Sebelumnya sudah ada film dokumenter garapan Asif Kapadia, Senna (2010). Yang juga sama-sama mengangkat cerita persaingan sengit antara pembalap, yakni Aryton Senna dan Alain Prost. Sekarang tahun ini kembali hadir film tentang F1, Rush disutradarai oleh Ron Howard dengan naskah cerita ditulis oleh Peter Morgan. Mereka berdua sudah pernah bekerja sama di Frost/Nixon (2008). Dan saya bukanlah penggemar balapan super cepat ini, nonton saja hampir tidak pernah, dan boro-boro kenal nama pembalap macam James Hunt dan Niki Lauda. Untungnya saya sebelumnya sudah pernah menonton Senna, jadi beberapa istilah di dunia F1 sudah tidak terlalu asing lagi. Dengan setting musim balapan tahun 1976, Rush mengangkat kisah rivalitas dua pembalap. Bagaimana melihat salah satu persaingan paling legendaris di dunia olahraga, Hunt dan Lauda silih berganti saling berjuang meraih posisi pertama.

October 3, 2013

The World's End (2013)

Kolaborasi Wright-Pegg-Frost, mungkin itu saja sudah terdengar spesial. Tambah lagi dengan kolaborasi lain, comedy serta sci-fi dan tema apocalypse, inilah The World’s End.

The World’s End mengisahkan tentang Gary King (Simon Pegg) yang mempunyai misi untuk minum bir di 12 bar atau kedai minuman berbeda. Bersama dengan keempat sahabatnya; Andy (Nick Frost), Peter (Eddie Marsan), Oliver (Martin Freeman) dan Steven (Paddy Considine), mereka mencoba menyelesaikan misi tersebut. Namun ditengah-tengah misi ada suatu kejanggalan di kota mereka. Yang ternyata keanehan tersebut berasal dari konspirasi makhluk asing. Barmageddon pun dimulai.

Naskah cerita yang ditulis oleh Edgar Wright bersama Simon Pegg ini mencoba menghadirkan cerita akhir zaman dengan cara berbeda. Ya, menggabungkan tema apocalypse dan nafas komedi. Sama yang dilakukan Seth Rogen dan kawan-kawan lewat This Is the End tahun ini juga. Kolaborasi antara Edgar Wright, Simon Pegg, dan Nick Prost memang sudah teruji baik lewat dua film sebelumnya; Shaun of the Dead (2004) serta Hot Fuzz (2007), dan sekarang The World’s End. Yang mana ketiganya tergabung dalam the Three Flavours Cornetto trilogy. Setelah bermaian-main di ranah zombie, lalu dunia polisi, sekarang di The World’s End akan bermain di zona science-fiction. Mengawalinya dengan adegan pembuka yang singkat namun efektif untuk memperkenalkan para karakter dan latar belakang ceritanya.

October 1, 2013

Children of Heaven (1997)

Pertama kali nonton film ini waktu SD, dan ketika salah satu stasiun televisi berulang kali memutar film ini di hari libur, hingga sampai sekarang re-watching berkali-kali pun. Masih belum merasa bosan.

Children of Heaven mengisahkan tentang Ali (Amir Farokh Hashemian), anak 9 tahun yang sementaraa harus menggantikan tugas ibunya berbelanja. Ketika pergi ke pasar dia juga turut membawa sepatu adiknya, Zahra (Bahere Seddiqi), yang harus diperbaiki karena rusak. Sialnya, sepatunya menghilang tanpa sengaja oleh Ali. Sepulangnya dirumah, Zahra bersedih, mereka pun sepakat untuk merahasiakan kejadian itu karena takut dimarahi ayah mereka.

Film ini naskah ceritanya ditulis dan disutradarai oleh Majid Majidi. Sutradara asal Iran yang terkenal lewat film-film berkualitasnya macam Baran dan The Song of Sparrows. Film yang menjadi perwakilan Iran di Oscar tahun 1998 dan akhirnya masuk nominasi Best Foreign Language ini seperti biasa mengangkat cerita dari kalangan menegah ke bawah masyarakat Iran. Menyajikan kisah kakak-adik yang sebenarnya sederhana namun begitu kuat dan berbobot. Menggunakan karakter yang masih polos pada masalah yang ia hadapi, berjalan dengan tempo yang pas menjadikannya jauh dari kondisi membosankan dan monoton. Hadir dengan banyak momen-momen yang menyentuh serta emosional, tanpa harus terlalu terlihat berlebihan dan didramatisir. Terlebih lagi bagian endingnya, adegan ketika Ali ikut lomba lari itu begitu mendebarkan dan mengharukan.