July 31, 2014

Short Review: The Grand Budapest Hotel (2014), Ilo Ilo (2013), Little Miss Sunshine (2006), Pitch Perfect (2012), Planet B-Boy (2007)

Akhirnya nulis lagi, ya walaupun lagi lagi reviewnya harus digabungin jadi satu post. Sebenarnya saya sih cukup berberat hati buat bikin ini post. Tapi ya karena mulai sadar diri bahwa diri ini sudah semakin sibuk, dan udah semakin jarang nyempetin waktu buat ngereview atau bahkan nonton film. Jadi saya niatan buat bikin at least satu postingan per satu bulan. Jadi, ini dia kumpulan short review dari beberapa film yang saya tonton 1-2 bulan terakhir. Check this out!

June 2, 2014

Manusia Unta's 2nd Anniversary

Kemarin 1 Juni 2014, sudah genap 2 tahun aja ini umur blog. Di hari yang spesial ini saya tidak bisa ngadain kuis-kuisan kaya blog awesome laen kalo anniversary. Ini aja baru dua hari yang lalu baru ingat kalo anniversary. Ya akhir-akhir ini penulis memang lagi sibuk-sibuknya sama dunia perkuliahan, jadinya jarang review lagi deh. Awal tahun kemarin Januari sih banyak nulis, tapi lama-kelamaan mulai menurun. Ini aja review Little Miss Sunshine, Ilo Ilo, Godzilla sama X-Men: Days of Future Past masih stuck di microsoft word. Ya harapannya di ulang tahun Manusia Unta yang kedua ini semoga kedepannya penulis blog ini makin rajin lagi nulisnya, amin, udah itu aja cukup. Akhir kata, Happy 2nd Anniversary, Manusia Unta!!! :))

May 16, 2014

The Amazing Spider-Man 2 (2014)

Everyone has a part of themselves they hide, even from the people they love most.  And you don’t have forever, none of us ever do.” – Aunt May

The Amazing Spider-Man 2 mengisahkan tentang Peter Parker (Andrew Garfield) sebagai seorang Spider-Man yang masih dibayang-bayangi pesan terakhir ayahnya Gwen yakni harus meninggalkan Gwen Stacy (Emma Stone) karena khawatir akan masuk kedalam situasi yang berbahaya. Di sisi lain dia harus melawan musuhnya yakni Max Dillon/Electro (Jamie Fox) yang bisa mengendalikan listrik. Ditambah lagi semakin diperumit dengan hadirnya teman masa kecil Peter sekaligus sekarang pimpinan perusahaan Osborn yakni Harry Osborn (Dane DeHaan) yang meminta sebuah bantuan kepada Peter yang justru membuat keberadaan Spider-Man terancam.

May 3, 2014

Short Review: Labor Day (2013), Enemy (2014), Ernest & Celestine (2012)

Straight to the point, isi post ini adalah short review dari beberapa film yang saya tonton akhir-akhir ini. Pengennya sih bikin reviewnya satu-satu, tapi karena suatu hal yang tidak dapat diceritakan disini akhirnya digabungin dalam satu post saja. So, without further ado, these are short review of Labor Day, Enemy, and Ernest & Celestine.

April 9, 2014

The Raid 2: Berandal (2014)

Setelah 2 tahun lalu Gareth Huw Evans menggebrak dunia film action dan megharumkan nama Indonesia lewat The Raid: Redemption. Jelas tidak ada alasan untuk tidak membuat sequelnya, bahkan Gareth sudah mencanangkan untuk membuat trilogy. Dan jelas ekspektasi meningkatkan, apalagi film kedua ini banyak masuk di list film paling diantisipasi tahun ini. Jika apa yang anda lihat di film pertamanya sudah super, maka kalikan berkali-kali lipat kesuperan di film pertamanya itu, itulah The Raid 2: Berandal.

The Raid 2: Berandal mengisahkan dua jam setelah akhir film pertamanya. Rama (Iko Uwais) kini telah bergabung dengan pasukan yang dipimpin Bunawar (Cok Simbara), dia ditugaskan untuk menyelidiki polisi-polisi yang terlibat dalam criminal. Dia pun menyamar dengan menggunakan indentitas baru bernama Yudha, dia berusaha mendekati Uco (Arifin Putra) putera dari mafia bernama Bangun (Tio Pakusadewo). Namun Rama justru masuk sangat dalam mulai dari permasalahan Bangun dengan mafia Jepang  yang dipimpin oleh Goto (Kenichi Endo), hingga keterlibatan gangster pimpinan Bejo (Alex Abbad) yang mempunyai tiga orang andalannya; The Assassin (Cecep Arif Rahman), Hammer Girl (Julie Estelle) dan Baseball Bat Man (Very Tri Yulisman).

April 7, 2014

The Breakfast Club (1985)

“What’s bizarre? I mean, we’re all pretty bizarre. Some of us are just better at hiding it, that’s all.” – Andrew Clark

The Breakfast Club mengisahkan tentang lima orang siswa SMA; John Bender (Judd Nelson), Andrew Clark (Emilio Estevez), Brian Johnson (Anthony Michael Hall), Claire Standish (Molly Ringwald), dan Allison Reynolds (Ally Sheedy) yang mendapat hukuman dengan ditahan di dalam ruang sekolah selama satu hari karena akibat dari perbuatan mereka. Mereka dihukum dan selama itu diawasi oleh kepala sekolah mereka yang galak, Richard Vernon (Paul Gleason).

Film ini disutradarai oleh John Hughes (National Lampoon’s Vacation, Ferris Bueller’s Day Off, Home Alone), yang mana dia juga sekaligus menulis naskah ceritanya. Well, The Breakfast Club banyak disebut-sebut sebagai salah satu film tentang anak SMA terbaik yang pernah ada. Ya, John Hughes memang ahlinya membuat film-film tentang remaja atau coming-of-age. Di The Breakfast Club kali ini setting-nya hanya bertempat di sebuah gedung sekolahan dan mengambil waktu sehari. Di film ini pun akan lebih banyak diisi oleh dialog-dialog menarik antar karakternya, baik itu berupa saling menghina, adu argumen, bercanda atau yang lainnya.

April 1, 2014

Philomena (2013)

Philomena mengisahkan tentang Martin Sixsmith (Steve Coogan) seorang jurnalis yang suatu hari ditawari oleh seseorang untuk membuat sebuah buku mengenai masalah seorang wanita tua bernama Philomena Lee (Judi Dench). Yang mana Philomena mempunyai cerita kelam ketika dia masih sekolah khusus biarawati, yakni puteranya diadoptasi oleh orang lain tanpa ada kesepakatan dengannya, mereka pun sudah 50 tahun masih belum bertemu. Dan akhirnya Martin menerima tawaran tersebut namun Martin justru ikut terlalu dalam hingga harus membantu Philomena menemukan putera tersayangnya itu.

Film ini disutradarai oleh Stephen Frears, sedangkan naskah ceritanya ditulis oleh Steve Coogan dan Jeff Pope yang mengadaptasi dari buku berjudul The Lost Child of Philomena Lee karangan Martin Sixsmith. Kisah Philomena sendiri juga berdasarkan dari kisah nyata. Punya struktur cerita yang efektif, baik dan sederhana. Intinya ini adalah kisah seorang ibu yang sedang mencari puteranya yang sudah terpisah selama 5 dekade. Selain drama, di satu sisi Philomena ada unsur road-movie, di sisi lain juga ini seperti film-film ala investigasi, menjelajahi kota demi kota serta mencari informasi agar bisa bertemu anaknya.

March 28, 2014

Mr. Nobody (2009)

You have to make a right choice. As long as you don’t choose, everything remains possible.” – Nemo Nobody

Mr. Nobody mengisahkan tentang seorang laki-laki tua bernama Nemo Nobody (Jared Leto) yang sudah berusia 118 tahun di tahun 2092. Nemo adalah satu-satunya manusia yang masih bisa tumbuh secara normal. Karena di tahun 2092 semua manusia sudah bisa hidup abadi berkat bantuan teknologi super canggih. Suatu hari Nemo di wawancarai oleh seorang wartawan mengenai masa lalunya. Nemo pun menceritakan masa lalunya itu, salah satunya adalah mengenai bahwa Nemo yang menikah dengan tiga wanita; Anna (Diane Kruger), Elise (Sarah Polley), dan Jean (Linh-Dan Pham).

Film ini disutradarai oleh Jaco Van Dormael yang juga sekaligus menulis screenplay-nya. Mr. Nobody adalah sebuah film yang menggabungkan science-fiction, drama, dan romance dalam satu film. Dan harus diakui tidak mudah untuk dapat benar-benar menikmati ataupun memahami kisahnya, karena Mr. Nobody bercerita secara non-linear atau tidak secara kronologikal yang runtun, dan itu ditambah lagi dengan durasi yang cukup menyebalkan yakni dua setengah jam. Tapi sebenarnya mudah saja jika kita menontonnya dengan teliti dan fokus. Ya, menonton Mr. Nobody seperti merangkai kepingan-kepingan puzzle yang teracak dimana-mana.

March 21, 2014

300: Rise of an Empire (2014)

“Better we show them, we chose to die on our feet, rather than live on our knees.” - Themistocles

300: Rise of an Empire mengisahkan tentang Themistocles (Sullivan Stapleton) seorang jenderal perang Athena yang berhasil membunuh King Darius I (Yigal Naor) dari Persia. Kematian raja Persia itu disaksikan langsung oleh putranya, Xerxes (Rodigo Santoro). Xerxes pun berupaya untuk membalas dendam kepada Themistocles terhadap kematian ayahnya itu dengan menabuh genderah perang. Pasukan perang Persia dipimpin dan dikendalikan oleh seorang wanita bernama Artemisioa (Eva Green).

Ini adalah follow-up dari film pertamanya 300 (2007) yang disutradarai oleh Zack Snyder (Sucker Punch, Man of Steel) itu. Snyder pun masih mencantumkan namanya di credit film ini, namun bukan sebagai sutradara melainkan sebagai produser. Kursi sutradara 300: Rise of an Empire sekarang berpindah ke tangan Noam Murro. Sedangkan screenplay-nya juga ditulis oleh Zack Snyder bersama Kurt Johnstad mengadaptasinya dari novel grafis yang belum dipublikasikan karya Frank Milller yang berjudul Xerxes. Membawa ceritanya ketika sebelum, selama, dan sesudah kejadian di film 300 itu.

March 19, 2014

The Great Passage (2013)

The Great Passage mengisahkan tentang Mitsuya Majime (Ryuhei Matsuda) seorang pemuda kutu buku yang suatu hari diangkat sebagai editor kamus menggantikan Kouhei Araki (Kaoru Kobayashi) yang pensiun. Bersama dengan rekannya Masashi Nishioka (Joe Odigiri) dan rekan lainnya, mereka mempunyai satu proyek yakni harus membuat kamus bahasa Jepang berjudul Daitoka/The Great Passage. Kamus yang diproyeksikan akan selesai dalam beberapa tahun dan akan menjadi kamus paling lengkap.

Film yang mempunyai judul Jepang Fune o Amu ini disutradarai oleh Yuya Ishii, screenplay-nya ditulis oleh Kansaku Watanabe yang mengadaptasi dari novel best-seller berjudul sama karangan Shiwon Miura. Ceritanya bersetting tahun 90an. Punya cerita yang menjanjikan mengenai kisah di balik layar pembuatan kamus. The Great Passage punya alur yang cukup lambat menurut saya, namun tidak sampai tenggelam begitu membosankan. Dari film ini akhirnya saya tahu dan sadar, bahwa untuk membuat satu kamus membutuhkan waktu puluhan tahun. Melalui berbagai macam proses-proses yang begitu banyak dan panjang. Mulai dari mengumpulkan kata, menyeleksi, memberi pengertian, hingga harus update terhadap kata-kata baru. Dibutuhkan orang-orang pekerja yang memang harus ahli, sabar, teliti, dan berdedikasi tinggi terhadap dunia perkamusan.

March 9, 2014

Wadjda (2013)

Wadjda mengisahkan tentang anak perempuan tomboy berumur 11 tahun bernama Wadjda (Waad Mohammed) yang suatu hari melihat teman laki-laiknya bernama Abdullah (Abdullrahman Al-Gohani) yang sedang bermain sepeda. Dia pun ingin bermain sepeda juga lalu dia meminta kepada ibunya (Reem Abdullah) untuk membelikannya sepeda, ibunya jelas menolaknya karena di negaranya ada sebuah peraturan yang melarang perempuan untuk mengendarai sepeda. Tapi Wadjda tetap bersikukuh untuk bermain sepeda dan berusaha untuk mengumpulkan uang sendiri dari hasil berjualan gelang hand-made buatannya.

Well, banyak trivia atau fakta menarik seputar film Wadjda ini. Film ini berasal dari Arab Saudi, ya salah satu negara timur tengah yang mempunyai aturan-aturan yang ketat, bahkan disana pun tidak ada bioskop. Dan Wadjda adalah film pertama yang pengambilan gambarnya atau proses shooting-nya semuanya diambil keseluruhan di Arab Saudi. Dibutuhkan waktu selama lima tahun untuk menciptakan film ini, itu karena berbagai macam peraturan-peraturannyanya. Mulai dari minta izin proses shooting hingga masalah klasik dana. Yang akhirnya mereka pun bekerja sama dengan perusahaan produksi asal Jerman.

March 6, 2014

20 Feet from Stardom (2013)

Satu-satunya alasan kenapa saya ingin menonton film ini adalah karena film ini yang berhasil mengalahkan The Act of Killing-nya Joshua Oppenheimer pesaing terkuat diajang Oscar tahun ini untuk kategori Best Documentary Feature. Ya, 20 Feet from Stardom berhasil memenangkannya.

20 Feet from Stardom mengisahkan tentang cerita dibalik layar dari Darlene Love, Merry Clayton, Lisa Fischer, Tata Vega, Jo Lawry dan Judith Hill yang bekerja sebagai penyanyi latar atau pengiring yang sering mengiringi lagu-lagu dari beberapa artis terkenal macam The Rolling Stone, Ray Charles, Michael Jackson, Stevie Wonder, David Bowie, Joe Cocker, Elton John, Luther Vandross, Bruce Springteen dll.

Film dokumenter yang disutradarai oleh Morgan Neville ini mengisahkan tentang kisah pahit manis para penyanyi kulit hitam ini sebagai backup singer dari penyanyi terkenal legendaris. Penyanyi-penyanyi latar yang kadang sering tidak dianggap dan diperhatikan. Justru suara indah mereka itu tidak kalah bagus dari penyanyi aslinya, beberapa dari artis mereka mengatakan bahwa suara mereka itu justru membuat lagu-lagu mereka semakin bagus serta seperti memberikan nyawa dan jiwa tersendiri terhadap lagu-lagu mereka. Bagaimana film dokumenter yang pertama kali premier di Sundance Film Festival tahun lalu ini memberikan kisah jatuh bangun mereka yang mulai dari bukan apa-apa menjadi sesuatu, hingga mereka berkesempatan untuk merilis rekaman sendiri. Ketika mereka harus dihadapkan pada sebuah pilihan antara apakah harus menjadi artis sebagai penyanyi professional atau tetap hanya sekedar penyanyi latar.

March 3, 2014

The 86th Academy Awards – Winners

The 86th Academy Awards diadakan pada 2 Maret 2014 waktu setempat yang digelar di Dolby Theater, Hollywood, Los Angeles. Pegelaran anugerah film ini dipandu oleh Ellen DeGeneres. Nominasi terbanyak tahun ini dipegang oleh American Hustle dan Gravity dengan masing-masing mengantongi 10 nominasi. Sedangkan award terbanyak berhasil diraih Gravity dengan 7 piala Oscar berhasil dibawa pulang. Namun yang berhasil membawa gelar Best Picture tahun ini adalah 12 Years a Slave. Berikut daftar lengkap para pemenang:

February 27, 2014

The Great Beauty (2013)

I’m not a misogynist, I’m a misanthrope.” – Jep Gambardella

The Great Beauty mengisahkan tentang seorang penulis bernama Jep Gambardella (Toni Servillo) yang dulunya yang terkenal lewat salah satu mahakarya sastranya. Kini mahakaryanya itu masih dikenang dan dihormati, dia menikmati kesuksesannya yang dulu dengan berkehidupan hedonisme penuh harta dimasa sekarang. Namun dia sadar bahwa ada sesuatu yang kurang dihidupnya yang sekarang.

Film yang mempunyai judul Italia La grande bellezza ini disutradarai oleh Paolo Sorrentino yang mana screenplay-nya juga ditulis olehnya bersama Umberto Contarello. The Great Beauty memfokuskan ceritanya pada kehidupan hedonisme seorang laki-laki tua bernama Jep Gambardella. Film ini berjalan seperti tanpa ada tujuan pasti, yakni maksudnya di setiap adegan-adegannya tidak ada yang seperti berkelanjutan, berpindah-pindah dari satu adegan ke adegan lain tanpa ada kontinuitas yang pasti namun tetap menarik, ya The Great Beauty memang terasa begitu segmented. Dan tidak mudah memang untuk menikmati film ini apalagi dengan durasinya yang cukup menyebalkan itu.

February 25, 2014

Nebraska (2013)

“Have a drink with your old man. Be somebody.” – Woody Grant

Nebraska mengisahkan tentang Woody Grant (Bruce Dern) lelaku tua renta yang telah memenangkan sebuah lotre berhadiah 1 juta dollar. Namun anaknya David Grant (Will Forte) telah memberi tahu bahwa hadirah tersebut palsu. Woody tetap bersikeras untuk mengambil hadiah tersebut dengan jalan kaki yang jaraknya tidaklah dekat, sang istri, Kate Grant (Jane Squibb) pun geram dengan sikap suaminya itu. David yang merasa kasihan dengan ayahnya itu pun bersedia mengantarkannya ke tempat pengambilan hadiah.

Film ini disutradarai oleh Alexander Payne (Election, Sideways, About Schmidt, The Descendants), sutradara yang pernah membawakan kita drama-komedi The Descendants tahun 2011 lalu yang berhasil meraih Best Original Screenplay di ajang Oscar. Di Nebraska screenplay-nya ditulis oleh Bob Nelson. Dan seperti film-filmnya Payne sebelumnya, dia yang memang spesialis film tentang hubungan keluarga juga membawa kembali tema tersebut ke Nebraska. Serta juga masih membawa kembali gaya sederhananya yang juga diisi oleh komedi yang sama simplenya. Namun di Nebraska kali ini dia membalutnya dengan sentuhan road-movie.

February 21, 2014

Oldboy (2013)

Bagi yang merasa movie freak tentu judul Oldboy sudah tidak asing lagi terdengar, sebuah film psikologikal thriller dari Korea Selatan yang rilis tahun 2003 silam, berhasil menjadi film yang begitu dihormati. Lalu apa jadinya jika film yang sudah melegenda itu di-remake oleh Hollywood.
Oldboy mengisahkan tentang seorang laki-laki bernama Joe Doucett (Josh Brolin) yang tanpa alasan yang jelas dipenjara oleh orang tak dikenal selama 20 tahun. Dan ketika dia sudah bebas, dia pun disuruh untuk mencari tahu siapa orang yang telah memenjarakannya dan apa alasannya. Dia pun mencari tahu dua hal tersebut dibantu oleh Mary (Elizabeth Olsen). Ternyata orang tersebut adalah Adrian (Sharlto Copley), namun apa sebenarnya alasan Adrian memenjarakan Joe?

Versi remake-nya disutradarai oleh Spike Lee dengan screenplay-nya ditulis oleh Mark Protosevich. Jalan ceritanya tidak jauh berbeda dengan versi original-nya yang disutradarai oleh Park Chan-wook berdasarkan manga berjudul sama itu. Ya, jalan ceritanya masih sama, cuma ada sedikit banyak usaha dari Spike Lee untuk berbeda dari versi original. Atau pun hadirnya banyak penampakan-penampakan yang berkaitan dengan film aslinya yang mungkin ditujukan untuk menghormati versi original-nya. Yang sayangnya usaha-usaha itu tidak terlalu bekerja dengan baik. Sebuah remake tentu tidak bisa lepas untuk tidak membicarakan atau membandingkannya dengan yang original, dan akan membuat orang-orang berpikir sebelah mata.

February 15, 2014

The LEGO Movie (2014)

“If this relationship is going to work out between us I need to feel free to party with a bunch of strangers whenever I felt like it. I will text you.” – Batman

The LEGO Movie mengisahkan tentang Emmet (Chris Pratt) seorang pekerja konstruksi yang tanpa sengaja menemukan Piece of Resistance, yakni sebuah benda yang dapat membawanya pada suatu yang berbeda. Suatu hari dia pun di tahan oleh Bad Cop (Liam Nesson) karena suruhan Lord Business (Will Ferrell). Disana Emmet mengetahui bahwa Lord Business hendak menghancurkan dunia dengan sebuah senjata bernama Kragle. Sampai seorang wanita bernama Wyldstyle (Elizabeth Banks) menyelamatkannya dan membawanya kepada Vitruvius (Morgan Freeman). Mulai saat itulah Emmet mencoba untuk menyelamatkan dunia dari ancaman berbahaya Kragle.

Film animasi ini disutradarai oleh duo Phil Lord dan Chris Miller. Duet sutradara yang pernah membawa kita animasi Cloudy with a Chance of Meatballs (2009) dan komedi 21 Jump Street (2012) ini juga bertindak sebagai penulis screenplay-nya. Mereka coba membawa mainan LEGO yang sering kita mainkan dulu semasa kecil ke media layar lebar. Mengeksplorasi dan mengkreasikan imajinasinya dengan membentuk suatu plot penceritaan yang seiring berjalan punya pengembangan cerita lain. Ini seperti yang sudah dilakukan Transformers (2007) dan Battleship (2012), yang juga sama-sama film berdasarkan mainan. The LEGO Movie mengusung konsep stop motion yakni dengan gerakan patah-patah kaku, semua set-nya juga dibuat seolah-olah memang dunia LEGO, mulai dari karakternya, bangunan, dan ornamen lain dibuat seperti terbuat dari kepingan-kepingan plastik LEGO.

February 12, 2014

Dirty Wars (2013)

What happens to us when we finally see what is hidden in plain sight.
– Jeremy Scahill

Dirty Wars mengisahkan tentang seorang jurnalis asal Amerika Serikat bernama Jeremy Scahill yang menginvestigasi satu kasus mengenai terbunuhnya lima warga Afghanistan termasuk dua ibu hamil karena ulah tentara Amerika Serikat dalam sebuah operasi bernama Joint Special Operations Command (JSOC). Tidak hanya mengenai kasus itu saja, Scahill juga turut menginvestigasi kasus lain yang melibatkan militer Amerika Serikat.

Film ini disutradarai oleh Richard Rowley dengan naskah ceritanya ditulis berdasarkan buku berjudul Dirty Wars: The World Is a Battlefield karangan seorang koresponden majalah The Nation bernama Jeremy Scahill yang sekaligus menulis screenplay-nya bersama David Riker. Dirty Wars adalah sebuah film dokumenter yang ceritanya digerakkan oleh Jeremy Scahill sendiri, yang mana dia membawa narasinya, menyelidiki dan mewawancarai sendiri orang-orang yang terlibat dalam kasus ini. Ya, film yang masuk nominasi Oscar tahun ini untuk kategori Best Documentary Feature ini memang tampak begitu berani dan provokatif. Scahill mencoba membuka, menguak, dan mengeksplorasi hal-hal yang tidak diketahui khalayak publik dengan cukup mendalam dan detil yang mana selama ini hanya sebuah rahasia yang ditutup-tutupi.

February 9, 2014

Big Bad Wolves (2013)

Big Bad Wolves mengisahkan tentang putri dari seorang ayah bernama Gidi (Tzahi Grad) yang baru saja diculik dan dibunuh oleh seseorang. Kasus ini pun diselidiki oleh seoreang polisi bernama Miki (Lior Ashkenazi) yang kemudian mencurigai seorang guru sekolah bernama Dror (Rotem Keinan) sebagai pelakunya. Dror pun diintrogasi, namun apakah benar Dror adalah pelaku yang sebenarnya?

Satu-satunya alasan terkuat untuk menonton film ini adalah karena adanya pernyataan dari sutradara Quentin Tarantino yang menobatkan Big Bad Wolves sebagai film terbaiknya tahun 2013 lalu. Film yang berasal dari Israel ini disutradarai duo Aharon Keshales dan Navot Papushado yang juga sekaligus menulis naskah cerita dan menjadi editornya. Big Bad Wolves memulainya dengan santai lewat adegan pembukannya yang dibalut dengan slow motion membentuk sebuah motif masalah yang nantinya dijadikan pokok bahasannya. Ini adalah film tentang sebuah penculikan yang nantinya berubah haluan menjadi film tentang balas dendam.

February 7, 2014

Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring (2003)

“Lust awakens the desire to possess. 
And that awakens the intent to murder.” – Old Monk

Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring akan membagi ceritanya menjadi lima segmen yang saling berhubungan sesuai judulnya yang mewakili setiap musim itu. Dimulai dari Spring mengisahkan tentang seorang biksu tua renta (Oh Su-yeong) yang tinggal di sebuah kuil yang terapung di sebuah danau bersama seorang anak kecil (Kim Jong-ho). Segmen selanjutnya Summer mengisahkan si anak kecil tadi yang sudah tumbuh menjadi seorang biksu remaja (Seo Jae-kyeong), suatu ketika dia jatuh cinta dengan seorang wanita (Ha Yeo-jin). Sedangkan segmen Fall mengisahkan tentang biksu remaja tadi yang telah tumbuh menjadi biksu dewasa (Kim Young-min). Begitu juga dengan segmen Winter yang mengisahkan tentang biksu dewasa tadi menjadi biksu tua (Kim Ki-duk). Dan segmen yang terakhir and Spring mengisahkan tentang biksu tua tadi yang kini telah mengasuh anak kecil.

February 6, 2014

Cutie and the Boxer (2013)

“Live is wonderful. Life should be positive. When it’s blown to pieces, that’s when it becomes art.” – Ushio Shinohara.

Cutie and the Boxer mengisahkan tentang kisah pahit manis cinta sepasang suami istri asal Jepang yang kini menetap di Amerika; Ushio Shinohara dan Noriko Shinohara, mereka berdua terpaut usia cukup jauh. Mereka berdua adalah seorang seniman lukis.

Film dokumenter ini disutradarai oleh Zachary Heinzerling yang juga sekaligus menjadi produser dan sinematografernya. Cutie and the Boxer nampak di atas kertas memang seperti sebuah film romansa. Bagaimana disini diperlihatkan sebuah kisah percintaan dua sejoli yang begitu manis. Bagaimana mereka yang mempunyai minat yang sama dibidang seni lukis, yang akhirnya dari itu tumbuh itu butir-butir cinta. Bagaimana mereka berjuang bersama mempertahankan bahtera rumah tangga mereka walau beberapa kali sempat dihadang masalah. Disinilah kita akan melihat arti sebuah cinta yang sesungguhnya, sebuah ikatan suami istri yang begitu harmonis dan hangat. Membuat siapa pun yang melihat kisah cinta mereka akan terpukai akan keagungan cinta.

February 4, 2014

Artifact (2012)

We were backed into a corner. For us, it was all or nothing. Sometimes we must fight in order to be free.  Jared Leto

Film dokumenter ini disutradarai oleh aktor sekaligus vokalis dari grup band rock 30 Seconds to Mars, yakni Jared Leto dengan menggunakan nama samaran Bartholomew Cubbins. Artifact adalah sebuah film dokumenter yang mengisahkan tentang band rock asal Los Angeles, California, Amerika Serikat bernama Thirty Seconds to Mars yang bermasalah dengan label rekaman mereka EMI karena terjerat hutang 30 juta dollar yang entah bagaimana. Permasalahan itu pun diangkat ke perkara hukum dengan beberapa kali melakukan proses negosiasi.

Selain itu Artifact juga yang pada awalnya mengisahkan tentang bagaimana dibalik pembuatan album ketiga mereka Thirty Seconds to Mars yakni This Is War. Yang mana mereka melakukan proses rekaman sendiri menggunakan uang mereka dari hasil sisa keuntungan penjualan album pertama dan kedua mereka. Melakukan proses rekaman sendiri di sebuah rumah milik mereka diproduseri oleh produser bernama Flood. Pemilihan judul album This Is War itu juga menggambarkan bagaimana Jared Leto dan kawan-kawan menabuh genderang perang terhadap label rekaman mereka. Yang akhirnya album ketiga mereka itu pun rilis tahun 2009, dan terjual puluhan juta keping. Hingga sanggup melangsungkan tur konser bertajuk Into the Wild Tour dalam rangka mempromosikan album ketiga mereka itu.

January 31, 2014

Best Movies of 2013

Cukup telat memang setelah 2014 sudah berlalu satu bulan saya baru meluncurkan list Best Movies of 2013 saya. Sebenarnya deadline post ini tanggal 26 kemarin, tapi karena masih ada beberapa film yang saya kejar akhirnya molor sampai tanggal 30. Setelah bulan Januari ini saya kebut mengejar film-film yang berpotensi saya sukai. Tahun 2013 memang banyak film-film yang berkualitas, sehingga untuk menyusunnya menjadi 20 besar saja cukup sulit karena saya terpaksa harus menyingkirkan film bagus lain ke honorable mention. Lists dibawah ini pun tidak bisa dibilang the best sepenuhnya, karena ini adalah subjektif saya dan masih banyak juga film-film bagus yang belum saya tonton. Dan perlu diketahui, lists dibawah ini juga dapat berubah sewaktu-waktu jika ada penontonan ulang dan film-film lain yang baru saya tonton. So, without further ado, berikut film terbaik tahun 2013 versi Manusia Unta.

Moebius (2013)

Moebius mengisahkan tentang satu keluarga yang berisi ayah (Cho Jae-hyun), ibu (Lee Eun-woo) dan anak (Seo Young-joo). Suatu hari ketika sang ayah sedang bertelepon dengan selingkuhannya (juga diperankan Lee Eun-woo), sang ibu pun marah dan hendak memotong alat kelamin sang ayah. Untungnya sang ayah dapat menggagalkan niat gila istrinya itu. Namun sang ibu justru melampiaskan kemarahannya itu kepada anaknya, dia pun memotong alat kelamin anaknya sendiri. Sang anak pun begitu depresif, sang ayah pun berusaha semampu mungkin membantu untuk dapat melakukan implant alat kelamin anaknya.

FYI, ini adalah film ketiga dari Kim Ki-duk yang telah saya tonton setelah 3-Iron dan Pieta. Pada Moebius ini ceritanya sederhana, sederhana sekali. Bagaimana seorang anak lelaki yang harus menjalani hidupnya tanpa penis. Dan seperti yang kita ketahui, film-filmnya Kim Ki-duk memang selalu sarat dengan hal-hal yang berbau kekerasan dan seksual. Tidak terkecuali di Moebius, malahan dosis violence dan sexual-nya semakin meningkat. Bagian kekerasannya, jika anda berpikir adegan potong penis yang saya sebutkan di sinopsis itu adalah sudah begitu menyakitkan, bahkan menjijikan ketika sang ibu memakan potongan tersebut. Tunggu sampai Kim Ki-duk memberikan adegan itu berkali-kali dan memberikan adegan kekerasan lain yang tak kalah menyakitkannya, sebut saja salah satunya adalah bagaimana menjadikan rasa sakit sebagai media kenikmatan seksual.

January 30, 2014

August: Osage County (2013)

August: Osage County mengisahkan tentang Violet Weston (Meryl Streep) yang baru saja ditinggal suaminya Beverly Weston (Sam Shepard) setelah bunuh diri. Dalam rangka pemakaman Beverly, seluruh anggota keluarganya pun berkumpul dalam satu rumah. Mulai dari ketiga putri tercintanya; Barbara (Julia Roberts), Karen (Juliette Lewis) dan Ivy (Julianne Nicholson) hingga menantu, cucu, dan adiknya pun turut datang. Mulai dari pertemuan keluarga itulah muncul percekcokkan antar keluarga yang diliputi perdebatan besar.

Film ini diadaptasi berdasarkan salah satu pementasan teater yang pernah mendapat Pulitzer Award berjudul sama milik Tracy Letts, yang mana dia juga menjadi penulis naskahnya disini. Sedangkan dibangku sutradara diisi oleh John Wells. August: Osage County memfokuskan ceritanya pada sebuah keluarga besar yang “gila”. Namun ini bukan malah menjadi sebuah sajian yang membosankan. Beruntungnya film ini ditulis oleh orang yang tepat, yakni si pemiliknya sendiri: Tracy Letts. August: Osage County punya fondasi struktur cerita yang kuat sedari awal hingga akhir. Diawali dengan sabar memperkenalkan karakter-karakternya, siapa ini siapa itu, memberikan satu akar masalah yang mengharuskan semua anggota keluarga berkumpul. Dan kisah yang sebenarnya pun dimulai.

Inside Llewyn Davis (2013)

“If it was never new, and it never gets old, then it’s a folk song.” – Llewyn Davis

Inside Llewyn Davis mengisahkan tentang Llewyn Davis (Oscar Isaac) seorang penyanyi music folk yang baru saja ditinggal mati partnernya karena bunuh diri. Keeksistensiannya pun dipertaruhkan ketika dia tidak punya tempat tinggal dan harus tinggal dengan temannya Jean Barkey (Carey Mulligan) dan berpindah-pindah ketempat lain. Untung dia masih punya orang-orang yang mau berbaik hati kepadanya untuk melanjutkan karirnya, namun saying itu tidak berjalan mulus karena sikap negatif Davis yang kadang memutarbalikkan hasilnya.

Film ini disutradarai oleh Coen Brothers: Joel Coen dan Ethan Coen yang juga sekaligus menulisnya, ceritanya terinspirasi dari seorang penyanyi folk Dave Van Ronk. Mengisahkan tentang sosok Llewyn Davis yang harus mempertahankan hidupnya dalam artian berjuang untuk pekerjaannya. Bagaimana sosoko Llewyn Davis yang disini digambarkan sebagai seorang yang sial, mulai dari kematian partnernya yang bunuh diri, kehilangan pekerjaan, usaha-usaha yang berakhir nihil dan segudang masalah-masalah lainnya. Namun sosok Llewyn Davis disini mampu berjuang mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan memanfaatkan kesempatan dan kemungkinan sekecil apapun agar bisa menjadi suatu yang lebih besar. Tidak peduli berapa kali dia gagal, berapa kali dia tertimpa sial, dia tetap survive. Apalagi Llweyn Davis yang disini untungnya masih memiliki sahabat-sahabat atau orang-orang yang ia kenal atau bahkan tidak kenal sekalipun yang masih memiliki hati mulia yang bersedia menolongnya. Sosok Llweyn Davis disini benar-benar diuji, mencoba menghilangkan kebiasaan buruknya seperti sikap ambisius, ceroboh dan keras kepala. Ya, ini seperti sebuah studi karakter. Dalam durasi satu setengah jam lebihnya, film ini memang diselimuti tone sendu dengan sedikit bumbu komedi dalam dosis kecil.

January 29, 2014

Jackass Presents: Bad Grandpa (2013)

Jackass Presents: Bad Grandpa mengisahkan tentang seorang kakek berjiwa muda bernama Irving Zisman (Johnny Knoxville). Dia punya seorang anak perempuan, Kimmie (Georgina Cates), dan seorang cucu, Billy (Jackson Nicoll). Sayangnya ibu dari Billy adalah seorang yang tidak baik. Ibunya pun meminta kepada Irving untuk membawa Billy ke tempat ayahnya, Chuck (Greg Harris) yang juga sialnya sama-sama seorang bapak yang tidak baik. Irving dan Billy pun melakukan perjalanan menuju tempat bapaknya Billy, selama perjalanan mereka berdua melakukan hal-hal gila.

Film ini disutradarai oleh sutradara film Jackass sebelumnya yakni Jeff Tremaine, sekaligus juga menulis screenplay-nya bersama aktornya Johnny Knoxville dan Spike Jonze. Well, tahu dong Jackass? Sekumpulan pria bangsat tak takut mati yang melakukan aksi stunt dan prank. Setelah Jackass: The Movie, Jackass: Number Two dan Jackass 3D, kali ini mereka kembali hadir lewat Jackass Presents: Bad Grandpa. Namun ada dua perbedaan signifikan di film mereka kali ini. Pertama, jika di film-film sebelumnya mereka melakukannya secara bersama-sama, namun disini hanya akan ada Johnny Knoxville. Kedua, jika di film-film sebelumnya mereka melakukan aksi gila hanya sebatas dokumenter biasa, namun disini memiliki plot dengan cerita sederhana.

January 28, 2014

Short Term 12 (2013)

“It’s impossible to worry about anything else when there’s blood coming out of you.” – Grace

Short Term 12 mengisahkan tentang sebuah tempat yang memfasilitasi anak-anak remaja yang mempunyai masalah, dengan memiliki beberapa supervisor-nya yakni Grace (Brie Larson), Mason (John Gallagher Jr.) dan seorang pria yang tengah magang disana, Nate (Rami Malek). Yang mana di tempat ini salah dua remajanya yakni Jayden (Kaitlyn Dever) dan Marcus (Keith Stanfield) memiliki keperibadia yang sedikit berbeda dimana bisa saja mereka “meledak-ledak”. Lantas bisakah Grace dan kawan-kawan memberikan sebuah lingkungan yang nyaman bagi para remajanya.

Film ini disutradarai oleh Destin Cretton sekaligus menulis screenplay-nya berdasarkan film pendeknya sendiri berjudul sama. Mengusung tema coming-of-age, bagaimana menceritakan sekumpulan anak-anak bermasalah yang dirawat agar menjadi lebih baik. Memberikan kehangatan dan keceriaan dibalik masa lalu yang kelam dan pedih. Short Term 12 bergerak dengan santai dan tenang, mengalir dengan alami memberikan kita kedekatan terhadap karakternya. Hadir tanpa adanya melodrama yang kelewat berlebihan, memberikan masalah-masalah dengan tatanan yang pas diselipkan di atmosfernya yang hangat itu.

January 26, 2014

Stories We Tell (2012)

“When you’re in the middle of a story, it isn’t a story at all but rather a confusion, a dark roaring, a blindness, a wreckage of shattered glass and splintered wood, like a house in a whirlwind or else a boat crushed by the iceberg or swept over the rapids, and all abroad are powerless to stop it. It’s only afterwards that it becomes anything like a story at all, when you’re telling it to yourself or someone else.” – Michael Polley

Stories We Tell mengisahkan tentang Sarah Polley  yang telah kehilangan ibu tercintanya, Diane Polley meninggal dunia ketika ia masih berumur 11 tahun karena mengidap penyakit kanker. Sarah pun membuat sebuah dokumenter yang mana itu meng-interview anggota keluargnya lalu menceritakan kembali seperti apa ibunya, mulai terungkap satu per satu informasi.

Film dokumenteri ini disutradarai oleh Sarah Polley (Away From Her, Take This Waltz) yang juga sekaligus menulis naskah ceritanya. Stories We Tell memfokuskan ceritanya pada masalah personal sang sutradara sendiri. Yang mana ini menitik beratkan pada misteri dan rahasia keluarganya khususnya ibunya sendiri. Memberikannya dengan data-data dan fakta-fakta yang detil. Melakukannya dengan interview beberapa keluarganya; kakak, adik, ayah, teman dekat ibunya, dll. Mereka memberikan perspektif sendiri-sendiri mengenai mendiang ibu Sarah, menceritakan setiap kronologi dengan sabar. Menelusuri ingatan manusia hanya untuk mencari sebuah kebenaran, ingin mengetahui bagaimana dan seperti apa yang sebenarnya terjadi sebelum Sarah lahir karena dia yang ditinggal mendiang ibunya ketika umur 11 tahun. Seiring waktu berjalan, ini tidak lagi hanya sekedar mengenal ibu lebih jauh. Namun ini akan lebih jauh bergerak pada kehidupan ibunya yang sangat personal, mulai dari situ sedikit demi sedikit mulai terkuak rahasia yang selama ini dirahasiakan. Uniknya saya merasa setiap interview itu bukan hanya sekedar memberikan pendapat sendiri-sendiri, melainkan itu seperti saling melengkapi kisah mereka satu sama lainnya.

Lone Survivor (2013)

“You die for you country, I’m going live for mine.” – Axe

Lone Survivor mengisahkan tentang  sebuah misi bernama Operation Red Wings yang dipimpin oleh Letnan Michael Murphy (Taylor Kitsch) dengan membawa prajurit; Marcus Luttrell (Mark Wahlberg), Danny Dietz (Emile Hirsch) dan Matthew Axelson (Eric Bana). Operation Red Wings adalah sebuah misi penagkapan Ahmad Shah, dia adalah pimpinan kelompok Taliban yang sadis dan telah membunuh banyak jiwa. Berhasilkah mereka?

Disutraadarai oleh Peter Berg (The Kingdom, Hancock, Battleship) juga sekaligus bergerak sebagai penulis screenplay-nya mengadaptasi dari buku berjudul sama karangan Marcus Luttrell berdasarkan kisah nyatanya mengenai kegagalan Navy SEAL pada Operation Red Wings tahun 2005. Well, setelah Battleship yang luar biasa dicaci kritikus luar sana, Berg sepertinya sadar apa kesalahannya. Sekarang lewat Lone Survivor dia akan membawa kita ke medan perang. Jika membaca judulnya tentu kita sudah mengetahui arah ceritanya bagaimana, apalagi ini diperjelas pada adegan pembukanya yang menampilkan Mark Wahlberg yang sedang kritis. Dibuka dengan rekaman-rekaman asli latihan super keras militer Amerika. Setelah itu memberukan ruang untuk kita mengenal terlebih dahulu kwartet prajurit pemberani itu. Lalu tanpa basa-basi kita langsung dibawa keatas bukit antah berantah di Afghanistan. Kita akan melihat bagaimana taktik militer hingga sampai ke bagian action-nya yakni baku tembak jual beli peluru dalam dosis tinggi dan ledakan bom dalam skala besar. Koregrafi action-nya begitu meyakinkan, intens dan menegangkan.

January 25, 2014

Blue Is the Warmest Color (2013)

Satu-satunya alasan bahwa saya ingin menonton film ini adalah adanya fakta bahwa film ini berhasil meraih Palme d’Or yakni film terbaik di Cannes Film Festival 2013, Blue Is the Warmest Color.

Blue Is the Warmest Color mengisahkan tentang seorang gadis bernama Adèle (Adèle Exarchopoulos) seorang yang polos terhadap cinta. Dia pun mencoba berpacaran dengan teman lelaki di sekolahnya, Thomas (Jeremie Laheurte). Namun dia tidak merasakan suatu gejolak cinta yang dalam. Sampai suatu hari Adèle pergi ke sebuah gay bar, disana dia bertemu dengan seoran gadis tomboy bernama Emma (Léa Seydoux). Mereka berdua pun semakin dekat dan akhirnya tumbuh rasa cinta diantara mereka.

Film yang berjudul Perancis La Vie d’Adèle – Chapitres 1 & 2 ini disutradarai oleh Abdellatif Kechiche yang juga sekaligus menulis screenplay-nya bersama Ghalia Lacroix mengadaptasi dari novel grafik berjudul sama karangan Julie Maroh. Film mengisahkan tentang perjalanan hitam putih hubungan percintaan sesama jenis antara Adèle dan Emma. Namun ini jauh dari sekedar kisah romansa, ini jauh lebih ke arah kisah coming-of-age. Bagaimana seorang gadis yang tengah tumbuh dewasa, mencari jati dirinya, dan merasakan pengalaman kisah cinta serba pertama. Lalu disaat gadis ini sudah nyaman dengan kondisinya sekarang terperangkap dalam gejolak cinta yang tidak semestinya, dia pun terjebak dalam zona nyamannya sendiri yang justru itu memberikan sesuatu yang kompleks nantinya. Blue Is the Warmest Color memulainya dengan sabar, memberikan kita ruang untuk mengenal terlebih dahulu sosok gadis cantik Adèle. Perlahan namun pasti dia mulai mengeluarkan taji ceritanya. Arah kisah romansanya cukup gampang ditebak, yang mana faktor kecemburuan menjadi penyebab masalah. Akhirnya muncul suatu permasalahan yang emosional.

January 24, 2014

Saving Mr. Banks (2013)

“Disappointments are to the soul what the thunderstorm is to the air.” – Travers

Saving Mr. Banks mengisahkan tentang Pamela Lyndon Travers (Emma Thompson) seorang penulis yang salah satu karyanya adalah Marry Poppins. Karyanya pun menarik perhatian seorang tokoh terkenal bernama Walt Disney (Tom Hanks) untuk diadaptasi. Namun hal untuk mengadaptasinya tidaklah mudah, selain bahwa sosok Travers yang menjengkelkan selama produksi, ternyata karyanya itu menyimpan banyak kisah-kisah masa kecil yang begitu personal.

Disutradarai oleh John Lee Hancock (yang dikenal lewat The Blind Side (2009)). Screenplay-nya ditulis berdua oleh Kelly Marcell dan Sue Smith. Saving Mr. Banks mengisahkan tentang bagaimana proses dibalik layarnya dalam produksi pembuatan Mary Poppins milik P. L. Travers. Well, mereka membagi cerita Saving Mr. Banks dalam dua masa, yakni pada masa Travers memproduksi Mary Poppins dan pada masa kecil Travers. Dua masa saling bergantian memberikan ceritanya dalam porsi yang seimbang yang mana saling mendukung terhadap kelanjutan cerita di satu sisi. Khususnya pada masa depan dimana Travers bernostalgia dan merenungi masa lalu kecilnya itu, masuk kedalam kenangan masa lalu yang menciptakan tali emosional. Namun harus diakui di beberapa bagian transisi atau perpindahan antara masa depan dan masa lalunya terasa kasar. Dan jujur saya baru sadar bahwa Saving Mr. Banks punya dua cerita; masa depan dan masa lalu setelah satu jam berlangsung. Awalnya saya kira ini memang sama-sama dua cerita di masa depan namun di tempat yang berbeda.

January 23, 2014

The Broken Circle Breakdown (2012)

“Life is not generous.” - Elise

The Broken Circle Breakdown mengisahkan tentang sepasang suami istri; Didier Bontinck (Johan Heldenbergh) seorang pemain banjo dalam sebuah grup band dan Elise Vandelvelde (Veerle Baetens) seorang tukang tato. Mereka mempunyai anak perempuan bernama Maybelle (Nell Cattrysse), yang suatu hari diketahui telah mengidap kanker dan harus menjalani kemoterapi. Namun naas, Maybelle menghembuskan nafas terakhirnya. Mereka berdua pun harus menjalani kehidupan sehari-hari dibawah baying-bayang kelam kematian mendiang putri mereka.

Ditulis oleh Felix Van Groningen yang juga bertindak sebagai sutradaranya bersama Carl Joos, berdasarkan drama panggung yang ditulis Johan Heldenbergh  dan Mieke Dobbets. Memberikan kisah mengenai hitam putihnya sebuah hubungan percintaan suami istri. Mengupas habis tetek bengek kehidupan rumah tangga dengan segala problematika seperti masalah anak, pertengkaran, beda persepsi dll. Alur cerita The Broken Circle Breakdown bergerak dengan non-linear. Yakni bergerak maju mundur, melompat-lompat dari satu masa ke masa. Yang mana itu menariknya berjalan silih bergantian antara atmosfer bahagia dan sedih. Emosi penonton akan dibuat naik turun dengan tone ceritanya yang selang-seling itu, mampu mengontrol emosi penontonnya dengan baik. Punya momen-momen emosional yang mempermainkan perasaan. Uniknya kita tidak perlu membangun emosi kembali ketika dihadapkan pada situasi yang emosional karena adanya perubahan tone ceritanya itu, ya karena sedari awal kita memang sudah terikat dengan ceritanya. Selain mengenai hubungan drama dan romansa kehidupan mereka. The Broken Circle Breakdown Sesekali juga ceritanya merembet ke ranah agama dan politik, di menjelang akhir ceritanya tepatnya.

Blue Jasmine (2013)

“Anxiety, nightmares and a nervous breakdown, there’s only so many traumas a person can withstand until they take to the streets and start screaming.” – Jasmine

Blue Jasmine mengisahkan tentang Jeanette “Jasmine” Francis (Cate Blanchett) seorang wanita yang telah ditinggal suaminya yang kaya raya karena suatu kasus, Hal (Alec Baldwin). Meninggalkan Jasmine dengan tanpa rumah dan uang. Jasmine pun tinggal sementara dengan saudarinya, Ginger (Sally Hawkins). Mulai saat itulah Jasmine mencoba untuk move on dari keterpurukan masa lalunya yang kelam itu. Dia mencoba untuk mencari pekerjaan dan pasangan hidup baru.

Film ini disutradarai oleh seorang sutradara yang begitu produktif yang mana hampir setiap setiap tahun selalu menelurkan film, namun karya-karyanya naik turun secara kualitas, ya Woody Allen. Di Blue Jasmine juga sekaligus bertindak menulis screenplay-nya. Tidak ada sesuatu yang baru dari film teranyar Allen ini, masih mengusung beberapa pakemnya seperti di filmnya sebelumnya. Tapi Allen berhasil mengelola materi yang sederhana itu dengan baik. Memfokuskan ceritanya terhadap karakter Jasmine melalui studi karakter darinya yang tengah move on dari kerapuhan. Mengusung cerita yang sederhana namun efektif menghasilkan masalah-masalah kecil kompleks. Punya warna cerita yang ceria namun juga depresif disaat bersamaan. Alur ceritanya bergerak maju mundur, dengan beberapa flashback yang berpadu serasi silih berganti dengan kejadian masa kininya. Bagian-bagain dramanya yang dibumbui komedi dengan pas, tanpa harus terlihat tumpang tindih dan jatuh terlalu jauh ke zona komedi. Punya dereten dialog-dialog cerdas yang kuat, mulai dari perdebatan hinggan selipan komedinya.

January 22, 2014

Blackfish (2013)

“They’re not your whales. They own them!”

Blackfish memfokuskan ceritanya pada seekor ikan paus atau killer whale atau orca bernama Tilikium. Tilikium adalah salah satu orca yang menjadi artis petunjukan dia SeaWorld. Yang mana suatu hari muncul kabar bahwa Tilikium telah menyebabkan kematian yang merenggut nyawa dari pelatihnya sendiri bernama Dawn Brancheau. Insiden ini pun memunculkan dua argumen berbeda mengenai penyebab dari peristiwa tersebut. Yang manakah yang benar diantara dua argumen itu?

Disutradarai oleh Gabriela Cowperthwaite dengan naskahnya ditulis bertiga bersamanya Eli Depres dan Tim Zimmermann. Blackfish adalah sebuah film dokumenter yang menitikkan pada persoalan abu-abu killer whale atau orca. Bagaimana  dokumenter ini membongkar rahasia-rahasia yang selama ini ditutupi dibalik praktik pertunjukan manisnya. Bagaimana dimulai dari proses penangkapannya di laut lepas ribuan kilometer sana yang keji sampai pada proses training untuk dilatih beberapa trik-trik gerakan agar bisa menghibur para penontonnya. Bahkan kerap kali orca diperlakukan dengan keras hingga tidak diberi makan sebagai sebuah bentuk hukuman karena mereka yang memberi performa buruk. Dibalik kelihatan luarnya yang memang bersahabat dan lucu, orca ternyata bisa merenggut nyawa manusia. Orca diketahui adalah hewan bersahabat dan sensitif, dia dapat sewaktu-waktu merasa bosan, frustasi, sedih hingga marah. Sejumlah kasus menyebutkan bahwa orca-orca ini menyerang manusia karena mereka yang berubah buas. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa kasus ini terjadi murni karena kecelakaan si trainernya saja, bukanlah salah orca.

January 21, 2014

Her (2013)

Karena hubungan cinta antara manusia dan manusai sudah terlalu mainstream. Maka Spike Jonze mencoba menghadirkan kisah cinta berbeda antara manusia dan sistem operasi komputer lewat film terbarunya Her.

Her mengisahkan tentang Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) seorang pria kesepian yang bekerja sebagai penulis surat. Suatu hari dia membeli sebuah operating system yang intelegensi artifisial yang memang dirancang agar dapat berinteraksi dengan manusia. Theodore pun mendapatkan sebuah OS seorang wanita bernama Samantha (Scarlett Johansson). Dia tidak lagi kesepian, hari-harinya ditemani oleh suara Samantha, dan mulai tumbuh perasaan diantara mereka sampai akhirnya menjalin sebuah hubungan cinta yang unik.

Disutradarai oleh Spike Jonze (Being John Malkovich, Adaptation, Where the Wild Things Are) dan tidak seperti di film-filmnya sebelumnya, yang mana filmnya selalu dibantu oleh penulis cerdas Charlie Kaufman dalam hal screenplay. Kali ini dia menulisnya sendiri, dan jika melihat hasil akhir dari Her, sepertinya dia telah belajar banyak dari sesepuhnya itu. Satu kata yang pantas disematkan kepada Her adalah brilian. Di film keempatnya ini, Spike Jonze menghadirkan kisah cinta yang berpadu dengan unsur science-fiction. Bagaimana hubungan romansa yang awkward antara seorang manusia dan operating system. Ini tidak hanya brilian, namun juga unik. Sedari awal Her memang sudah memperlihatkan tajinya bahwa film ini akan menjadi film romance yang superb dan loveable. Punya banyak momen dan dialog yang manis dan romantis. Ini adalah suatu contoh film romansa yang bagus tanpa harus menghadirkan deretan adegan erotis. Dengan hanya bermodalkan fondasi cerita yang kokoh dan dialog yang kuat, maka Her dengan mudahnya menjelma menjadi sebuah romansa yang begitu membuai.

January 20, 2014

Dallas Buyers Club (2013)

“Watch what you eat and who you eat.” – Ron Woodroof

Dallas Buyers Club mengisahkan tentang Ron Woodroof (Matthey McConaughey) seorang ahli listrik sekaligus cowboy rodeo yang suatu hari dia divonis positif mengidap AIDS oleh dua orang dokter; Dr. Sevard (Michael O’Neill) dan Dr. Eve Saks (Jennifer Garner), dan hidupnya hanya bertahan 30 hari lagi. Dia pun melakukan penelitian kecil sendiri, dan mengetahui bahwa obat bernama AZT dapat menambah kemungkinan hidupnya. Namun obat itu masih illegal, dia pun berusaha mencari sendiri obat tersebut. Bersama dengan rekannya Rayon (Jared Leto), Woodroof memutuskan untuk memperjual-belikan AZT dan obat-obat bagi para pengidap AIDS lainnya secara rahasia dengan membentuk sebuah klub bernama Dallas Buyers Club.

Dengan Jean-Marc Vallée sebagai sutradaranya sedangkan screenplay-nya ditulis oleh Craig Borten dan Melisa Wallack berdasarkan kisah nyata dari seorang Ron Woodroof yang berjuang mempertahankan hidupnya. Memulai dua pertiga filmnya dengan kisah survival terhadap penyakitnya. Bagimana saat dia pertama kali divonis positif AIDS dan hidupnya tinggal 30 hari lagi, lalu dengan sikap egoisnya dia merasa tidak ada yang bisa mengambil nyawanya. Juga bagaimana ketika Woodroof yang mencari obat untuk penyakitnya itu sendiri tanpa lewat media rumah sakit. That’s interesting. Tapi yang paling menarik bagi saya adalah bagian ketika sosok Woodroof yang disini dikucilkan dan dihina teman-temannya. Sebenarnya pada bagian ini punya potensi untuk membuat sesuatu yang simpatik dan emosional lalu muncul ledakan emosi dipenghujung ceritanya yang bikin ini film ciamik punya. Tapi Dallas Buyers Club tidak ada itu, harus diakui saya tidak terlalu bersimpatik terhadap tokoh Woodroof disini.

January 19, 2014

The Wolf of Wall Street (2013)

“The easiest way to make money is create something of such value that every body wants and go out and give and create value, the money comes automatically.”

The Wolf of Wall Street mengisahkan tentang Jordan Belford (Leonardo DiCaprio) seorang pialang saham kaya berekihdupan mewah yang pada suatu hari akibat sebuah peristiwa saham, tempat dia bekerja bangkrut. Dia pun bangkit dan bergabung ke perusahaan baru, bersama Donni Azoff (Jonah Hill) dan beberapa orang lain. Mereka pun menuai kesuksesan hingga Jordan mendapatkan seorang wanita cantik yang dinikahinya bernama Naomi Lapaglia (Margot Robbie). Namun salah satu agen FBI, Patrick Denham (Kyle Chandler), mencium adanya keanehan di perusahaan Jordan tersebut.

Disutradarai oleh Martin Scorsese dengan screenplay-nya ditulis ulang oleh Terence Winter berdasarkan memoir berjudul sama karangan Jordan Belfort sendiri. Well, film yang menandai kolaborasi kelima Scorsese dan Leonardo DiCaprio ini lebih mengisahkan tentang kehidupan hedonisme seorang Jordan Belford. The Wolf of Wall Street berjalan dengan alur dan tempo yang cukup cepat dan asyik serta dengan pergerakan ceritanya yang dinamis, namun lama-kelamaan mulai terasa cukup melelahkan hingga durasinya yang mencapai 3 jam itu. Film ini punya banyak dialog-dialog cerdas seputar masalah keuangan, saham dan perusahaannya, di beberapa bagian menghadirkan tips-tips bisnis. Namun disisi lain film yang punya rating R ini juga punya banyak dialog-dialog kasar dan jorok, penuh dengan sumpah serapah dan kalimat vulgar. Ya alhasil film ini banyak dilarang penayangannya di beberapa negara karena banyak mengandung adegan-adegan yang melibatkan konten seksual, nudity, pemakaian drugs dan bahasa kasarnya. Trivia: film ini menggunakan kata f*ck sampai 569 kali.

January 18, 2014

The Secret Life of Walter Mitty (2013)

“TO SEE THE WORLD, THINGS DANGEROUS TO COME TO, TO SEE BEHIND WALLS, TO DRAW CLOSER, TO FIND EACH OTHER AND TO FEEL. THAT IS THE PURPOSE OF LIFE.”

The Secret Life of Walter Mitty mengisahkan tentang Walter Mitty (Ben Stiller) seorang pekerja di sebuah majalah bernama LIFE. Tugasnya adalah menyusun foto-foto untuk cover majalah. Suatu hari sebuah klise foto penting bernomor 25 tiba-tiba hilang. Yang semestinya foto tersebut harus dimuat di cover majalah LIFE edisi terakhir. Walter pun berusaha untuk menemukan klise foto tersebut sampai harus membahayakan keselamatan dirinya.

Film ini disutradarai sendiri oleh pemeran utamanya Ben Stiller. Dengan screenplay-nya ditulis oleh Steve Conrad berdasarkan cerita pendek berjudul sama karangan James Thurber. Well, kalau boleh saya bilang The Secret Life of Walter Mitty adalah sebuah film dengan multi genre. Selain drama, film ini juga dibalut komedi, romansa, fantasi, adventure bahkan action (sedikit). Drama, mungkin sisi inilah yang paling dominan. Bagaimana tokoh Walter disini dihadapkan dengan masalah-masalah kompleks. Dihadapkan dalam posisi harus mengambil resiko, walau sekalipun itu dapat membahayakan nyawanya. Bagaimana sikap pantang menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Terus berjuang mewujudkan mimpi-mimpinya, tidak hanya duduk diam berangan-angan semata. Tampak dari bungkusnya The Secret Life of Walter Mitty memang nampak seperti film yang begitu inspiratif, berisi banyak momen dan kata-kata motivatif.

January 16, 2014

American Hustle (2013)

David O. Russell, sutradara yang sukses membawa dua filmnya; The Fighter dan Silver Linings Playbook berjaya di ajang Oscar. Kini, dengan membawa alumni dari dua filmnya itu ke American Hustle, apakah juga akan berjaya di Oscar?

American Hustle mengisahkan tentang Irving Rosenfeld (Christian Bale) seorang penipu handal yang mempunyai partner sekaligus kekasihnya dengan wanita cantik bernama Sydney Prosser (Amy Adams), namun disisi lain Irving juga tengah bermasalah dengan istri terdahulunya, Rosalyn Rosenfeld (Jennifer Lawrence). Sampai suatu hari mereka ditangkap oleh agen FBI, Richard DiMaso (Bradley Cooper). Namun bukannya ditahan, mereka justru diminta oleh Richie untul membantunya menangkap para penipu yang lain, salah satunya adalah seorang walikota bernama Carmine Polito (Jeremy Renner).

Film ini screenplay-nya juga ditulis oleh David O. Russell, ditulisnya bersama Eric Warren Singer berdasarkan operasi ABSCAM oleh FBI akhir tahun 70an hingga awal 80an. Mengangkat kisah nyata kriminal yang dibalut sentuhan drama dan komedi, namun beberapa nama karakter disini diganti tidak sesuai dengan aslinya. Alur dan tempo ceritanya berjalan dengan asyik dan cukup cepat, dengan beberapa kali flashback. Membentuk struktur cerita dengan fondasi yang kuat, tanpa harus memberikan penontonnya sebuah emosinalitas dan kompleksitas cerita yang berlebihan. Dan seperti halnya film crime kebanyakan, American Hustle juga akan lebih banyak diisi oleh isu-isu politik seperti tipu muslihat, korupsi, konspirasi, pengkianatan dll. Hadir dengan twist menghadirkan belokan-belokan cerita yang mengejutkan. Film ini tidak seserius yang terlihat diatas kertas. American Hustle juga punya sisi romance-nya, yang mana disini ada cinta segitiga antara Irving, Sydney, dan Rosalyn. Juga film yang awalnya mempunyai judul American Bullshit ini punya kadar komedi yang berhasil mengundang gelak tawa, baik itu dari komedi situasi ataupun dari dialognya.

January 15, 2014

Only God Forgives (2013)

“Time to meet the devil”

Only God Forgives mengisahkan tentang Julian (Ryan Gosling) seorang warga Amerika yang pindah ke Thailand lalu mengurus sebuah boxing club sekaligus tempat penyelundupan narkoba. Suatu hari dia mendapat kabar bahwa kakaknya, Billy (Tom Burke) telah tewas dibunuh. Kabar itu sampai ke teliga ibu mereka, Crystal (Kristin Scott Thomas), dia pun mencari pelaku pembunuhan tersebut dan mencoba melakukan balas dendam. Namun rencana itu tidak berjalan lancer, karena ada seorang polisi misterius bernama Chang (Vithaya Pansringarm) yang telah mengusut kasus ini.

Jika ditanya, film apa yang paling underrated tahun lalu? Only God Forgives. Film apa yang paling membagi dua kubu penontonnya? Only God Forgives. Film yang menandai kolaborasi kedua sutradara Nicholas Winding-Refn dan actor Ryan Gosling setelah Drive (2011) ini banyak mendapat reaksi negatif dari kritikus luar sana. Namun disisi lain juga mendapat pujian, terlebih lagi ketika Cannes tahun lalu, yang mana ketika film diputar mendapatkan dua reaksi, pertama, cemoohan; kedua, tepuk tangan meriah. Dan jujur saya termasuk pada kubu yang menyukainya. Well, naskahnya yang juga ditulis Winding-Refn ini berjalan dengan alur dan tempo yang lambat ditambah lagi dengan minimnya dialog. Yang saya paling saya sukai dari film ini adalah film ini surreal, arthouse, atau apalah itu namanya, pokoknya film ini nyeni banget. Dibalik tutur ceritanya yang mungkin bagi kritikus luar sana kosong itu ternyata film ini lebih berisi dan punya simbolisme tentang hubungan manusia dan tuhan yang dalam.  

January 9, 2014

Best Movie Posters of 2013

Sebelum melihat list Best Movies of 2013 saya. Mungkin ada baiknya untuk melihat list saya satu ini. Well, ini pertama kalinya saya bikin list Best Movie Posters. Harus diakui tahun 2013 lalu punya banyak poster-poster film yang keren. Setelah berusaha untuk meliaht poster sebanyak mungkin, cukup sulit bagi saya untuk mengerucutkannya menjadi 10 besar saja. List saya ini saya fokuskan pada poster-poster film rilisan tahun 2013 saja. Jadi untuk teaser poster film tahun 2014 tidak masuk hitungan, poster-poster bagus kayak The Grand Budapest dan Nymphomaniac tidak saya masukan. Dan list saya ini pun tidak bisa dibilang “terbaik” sepenuhnya, ini murni subjektif saya. Ok, without further ado, this is my top 10 movie posters of 2013!

January 8, 2014

12 Years a Slave (2013)

“I don’t want to survive. I want to live.” – Solomon Northup

12 Years a Slave mengisahkan tentang Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) seorang kaum kulit hitam yang memiliki talenta dalam hal musik ini menyebut dirinya free man. Suatu hari dia diculik lalu dijual beli sebagai budak. Lantas seorang pemilik perkebunan yang baik bernama Ford (Benedict Cumberbacth) pun membelinya. Namun justru kepintarannya itu membawakannya masalah kepada Tibeats (Paul Dano). Khawatir sesuatu terjadi pada Solomon, dia pun dijual kembali. Kali ini dibeli oleh Edwin Epps (Michael Fassbender), seorang yang kejam memperlakukan budaknya. Disana Solomon pun harus berjuang memperjuangkan keadilannya.

Steve McQueen, dialah dalang dibalik film ini. Setelah Shame dua tahun lalu yang tidak diperhatikan Oscar padahal punya kualitas yang bagus. Kali ini dengan membawa 12 Years a Slave, dia sepertinya ingin membalasnya dan membuktikan kembali bahwa filmnya memang layak diperhitungkan. Sekarang dia mengangkat cerita berdasarkan dari kisah nyata yang tertulis dalam autobiografi karya Solomon Northup yang screenplay-nya ditulis oleh John Ridley. Cerita tentang rasis dan perbudakan memang menjadi daya tarik sendiri, apalagi untuk orang asli USA sana. Ini seperti membuka kembali luka lama yang perih. Seperti halnya film tentang perbudakan kebanyakan, 12 Years a Slave juga menghadirkan perilaku kejam nan sadis ras kulis putih kepada kaum kulit hitam. Bentuk-bentuk siksaan yang diperlihatkan cukup eksplisit, mengeksploitasi fisik dengan brutal hingga menyisakan luka yang mendalam secara psikologis.

January 7, 2014

All Is Lost (2013)

“All is lost here… except for soul and body… that is, what’s left of them… and a half-day’s ration” – Our Man

All Is Lost mengisahkan tentang seorang pria (Robert Redfords) yang tengah berlayar sendirian di  Samudera Hindia. Suatu hari dia menemukan kapalnya berlubang dikarenakan benturan sebuah konteiner yang akhirnya mengakibatkan kebocoran. Tidak lama setelah itu datang badai besar menghantam kapalnya. Pada situasi ini dia harus berjuang sendirian untuk bertahan hidup di tengah laut dengan kondisi kapal yang rusak serta peralatan dan makananan yang seadanya.

Disutradarai oleh J. C. Chandor yang juga sekaligus menulis naskahnya. Film ini sedikit banyak mengingatkan saya dengan Life of Pi tahun lalu, yang mana sama-sama tentang kisah bertahan hidup di tengah laut. Namun All Is Lost jauh lebih sederhana dari film Ang Lee yang setia ditemani harimau Benggala itu. Disini Robert Redford benar-benar sendiri, hanya ditemani alam yang juga sekaligus menjadi musuh yang menakutkan. Alasan lain yang menjadikan film ini sederhana adalah minimnya dialog dalam durasi lebih dari satu setengah jamnnya, bahkan monolog sekalipun. Punya naskah cerita yang teliti dan cukup padat menghadirkan setiap detil-detil adegannya saja. Alur dan tempo ceritanya naik turun, masalah muncul tensi pun meningkat - ketika masalah reda tensi menurun, begitu seterusnya. Namun harus diakui pada paruh pertamanya All Is Lost kurang mampu mengikat emosi saya, dalam artian saya tidak terlalu bersimpati kepada si tokoh utama. Seperti di beberapa bagian yang sebenarnya berpotensi emosional, tidak terasa begitu simpatik. Dan saat paruh keduanya cukup berhasil mengikat emosi saya, apalagi saat ending-nya itu.

January 6, 2014

About Time (2013)

Time travel, mungkin satu dari sekian banyak subgenre yang selalu menarik untuk ditonton. Apalagi jika itu digabungkan dengan genre romance, contohnya seperti About Time.

About Time mengisahkan tentang Tim (Domnhall Gleeson), seorang pria canggung yang suatu hari diberi ayahnya (Bill Nighy) sebuah rahasia bahwa setiap keturunan pria dalam keluarganya memiliki kemampuan melakukan perjalanan waktu, cukup dengan mengepalkan tangan dan melakukannya di sebuah ruang sempit. Namun perjalanan waktu ini punya peraturan, yakni: 1) Hanya bisa ke masa lalu, 2) Tidak bisa ke masa lalu sebelum si pelaku lahir, dan 3) Perjalanan waktu sebelum anak lahir akan mengakibatkan anak berbeda yang dilahirkan dan anak yang asli akan hilang. Tim memanfaatkan kemampuannya itu untuk mencari jodohnya, dia pun bertemu dengan seorang wanita bernama Mary (Rachel McAdams).

Disutradarai dan naskahnya ditulis oleh sutradara yang sudah pengalaman mengarahkan serta menulis film drama-romansa yang manis – Four Weddings and a Funeral (1994), Nothing Hill (1999), Bridget Jones’ Diary (2001), Love Actually (2003) – dia adalah Richard Curtis. Menggabungkan kisah romantisme dan balutan fiksi ilmiah perjalanan waktu plus dengan bumbu komedinya. Alur ceritanya bergerak cepat dan ceria. Terdengar sangat menarik, punya potensi yang besar untuk menarik perhatian penontonnya. Dan itu berhasil di awalnya, ketika kita pertama kalinya melihat Tim melakukan perjalanan waktu dengan peraturan-peraturannya yang cukup rumit. Ya walaupun dibeberapa bagian terasa monoton karena menghadirkan konflik yang tergolong sama walaupun dalam tatanan yang berbeda: sesutu yang buruk terjadi - diperbaiki di masa lalu - akhirnya menjadi baik lagi. Akhirnya ketika ada satu momen yang berpotensi emosional, itu tidak lagi terasa begitu menyentuh. Dan semuanya terasa datar, tidak ada konflik yang begitu berarti untuk membuat sebuah ledakan emosional diakhirnya.