February 27, 2014

The Great Beauty (2013)

I’m not a misogynist, I’m a misanthrope.” – Jep Gambardella

The Great Beauty mengisahkan tentang seorang penulis bernama Jep Gambardella (Toni Servillo) yang dulunya yang terkenal lewat salah satu mahakarya sastranya. Kini mahakaryanya itu masih dikenang dan dihormati, dia menikmati kesuksesannya yang dulu dengan berkehidupan hedonisme penuh harta dimasa sekarang. Namun dia sadar bahwa ada sesuatu yang kurang dihidupnya yang sekarang.

Film yang mempunyai judul Italia La grande bellezza ini disutradarai oleh Paolo Sorrentino yang mana screenplay-nya juga ditulis olehnya bersama Umberto Contarello. The Great Beauty memfokuskan ceritanya pada kehidupan hedonisme seorang laki-laki tua bernama Jep Gambardella. Film ini berjalan seperti tanpa ada tujuan pasti, yakni maksudnya di setiap adegan-adegannya tidak ada yang seperti berkelanjutan, berpindah-pindah dari satu adegan ke adegan lain tanpa ada kontinuitas yang pasti namun tetap menarik, ya The Great Beauty memang terasa begitu segmented. Dan tidak mudah memang untuk menikmati film ini apalagi dengan durasinya yang cukup menyebalkan itu.

February 25, 2014

Nebraska (2013)

“Have a drink with your old man. Be somebody.” – Woody Grant

Nebraska mengisahkan tentang Woody Grant (Bruce Dern) lelaku tua renta yang telah memenangkan sebuah lotre berhadiah 1 juta dollar. Namun anaknya David Grant (Will Forte) telah memberi tahu bahwa hadirah tersebut palsu. Woody tetap bersikeras untuk mengambil hadiah tersebut dengan jalan kaki yang jaraknya tidaklah dekat, sang istri, Kate Grant (Jane Squibb) pun geram dengan sikap suaminya itu. David yang merasa kasihan dengan ayahnya itu pun bersedia mengantarkannya ke tempat pengambilan hadiah.

Film ini disutradarai oleh Alexander Payne (Election, Sideways, About Schmidt, The Descendants), sutradara yang pernah membawakan kita drama-komedi The Descendants tahun 2011 lalu yang berhasil meraih Best Original Screenplay di ajang Oscar. Di Nebraska screenplay-nya ditulis oleh Bob Nelson. Dan seperti film-filmnya Payne sebelumnya, dia yang memang spesialis film tentang hubungan keluarga juga membawa kembali tema tersebut ke Nebraska. Serta juga masih membawa kembali gaya sederhananya yang juga diisi oleh komedi yang sama simplenya. Namun di Nebraska kali ini dia membalutnya dengan sentuhan road-movie.

February 21, 2014

Oldboy (2013)

Bagi yang merasa movie freak tentu judul Oldboy sudah tidak asing lagi terdengar, sebuah film psikologikal thriller dari Korea Selatan yang rilis tahun 2003 silam, berhasil menjadi film yang begitu dihormati. Lalu apa jadinya jika film yang sudah melegenda itu di-remake oleh Hollywood.
Oldboy mengisahkan tentang seorang laki-laki bernama Joe Doucett (Josh Brolin) yang tanpa alasan yang jelas dipenjara oleh orang tak dikenal selama 20 tahun. Dan ketika dia sudah bebas, dia pun disuruh untuk mencari tahu siapa orang yang telah memenjarakannya dan apa alasannya. Dia pun mencari tahu dua hal tersebut dibantu oleh Mary (Elizabeth Olsen). Ternyata orang tersebut adalah Adrian (Sharlto Copley), namun apa sebenarnya alasan Adrian memenjarakan Joe?

Versi remake-nya disutradarai oleh Spike Lee dengan screenplay-nya ditulis oleh Mark Protosevich. Jalan ceritanya tidak jauh berbeda dengan versi original-nya yang disutradarai oleh Park Chan-wook berdasarkan manga berjudul sama itu. Ya, jalan ceritanya masih sama, cuma ada sedikit banyak usaha dari Spike Lee untuk berbeda dari versi original. Atau pun hadirnya banyak penampakan-penampakan yang berkaitan dengan film aslinya yang mungkin ditujukan untuk menghormati versi original-nya. Yang sayangnya usaha-usaha itu tidak terlalu bekerja dengan baik. Sebuah remake tentu tidak bisa lepas untuk tidak membicarakan atau membandingkannya dengan yang original, dan akan membuat orang-orang berpikir sebelah mata.

February 15, 2014

The LEGO Movie (2014)

“If this relationship is going to work out between us I need to feel free to party with a bunch of strangers whenever I felt like it. I will text you.” – Batman

The LEGO Movie mengisahkan tentang Emmet (Chris Pratt) seorang pekerja konstruksi yang tanpa sengaja menemukan Piece of Resistance, yakni sebuah benda yang dapat membawanya pada suatu yang berbeda. Suatu hari dia pun di tahan oleh Bad Cop (Liam Nesson) karena suruhan Lord Business (Will Ferrell). Disana Emmet mengetahui bahwa Lord Business hendak menghancurkan dunia dengan sebuah senjata bernama Kragle. Sampai seorang wanita bernama Wyldstyle (Elizabeth Banks) menyelamatkannya dan membawanya kepada Vitruvius (Morgan Freeman). Mulai saat itulah Emmet mencoba untuk menyelamatkan dunia dari ancaman berbahaya Kragle.

Film animasi ini disutradarai oleh duo Phil Lord dan Chris Miller. Duet sutradara yang pernah membawa kita animasi Cloudy with a Chance of Meatballs (2009) dan komedi 21 Jump Street (2012) ini juga bertindak sebagai penulis screenplay-nya. Mereka coba membawa mainan LEGO yang sering kita mainkan dulu semasa kecil ke media layar lebar. Mengeksplorasi dan mengkreasikan imajinasinya dengan membentuk suatu plot penceritaan yang seiring berjalan punya pengembangan cerita lain. Ini seperti yang sudah dilakukan Transformers (2007) dan Battleship (2012), yang juga sama-sama film berdasarkan mainan. The LEGO Movie mengusung konsep stop motion yakni dengan gerakan patah-patah kaku, semua set-nya juga dibuat seolah-olah memang dunia LEGO, mulai dari karakternya, bangunan, dan ornamen lain dibuat seperti terbuat dari kepingan-kepingan plastik LEGO.

February 12, 2014

Dirty Wars (2013)

What happens to us when we finally see what is hidden in plain sight.
– Jeremy Scahill

Dirty Wars mengisahkan tentang seorang jurnalis asal Amerika Serikat bernama Jeremy Scahill yang menginvestigasi satu kasus mengenai terbunuhnya lima warga Afghanistan termasuk dua ibu hamil karena ulah tentara Amerika Serikat dalam sebuah operasi bernama Joint Special Operations Command (JSOC). Tidak hanya mengenai kasus itu saja, Scahill juga turut menginvestigasi kasus lain yang melibatkan militer Amerika Serikat.

Film ini disutradarai oleh Richard Rowley dengan naskah ceritanya ditulis berdasarkan buku berjudul Dirty Wars: The World Is a Battlefield karangan seorang koresponden majalah The Nation bernama Jeremy Scahill yang sekaligus menulis screenplay-nya bersama David Riker. Dirty Wars adalah sebuah film dokumenter yang ceritanya digerakkan oleh Jeremy Scahill sendiri, yang mana dia membawa narasinya, menyelidiki dan mewawancarai sendiri orang-orang yang terlibat dalam kasus ini. Ya, film yang masuk nominasi Oscar tahun ini untuk kategori Best Documentary Feature ini memang tampak begitu berani dan provokatif. Scahill mencoba membuka, menguak, dan mengeksplorasi hal-hal yang tidak diketahui khalayak publik dengan cukup mendalam dan detil yang mana selama ini hanya sebuah rahasia yang ditutup-tutupi.

February 9, 2014

Big Bad Wolves (2013)

Big Bad Wolves mengisahkan tentang putri dari seorang ayah bernama Gidi (Tzahi Grad) yang baru saja diculik dan dibunuh oleh seseorang. Kasus ini pun diselidiki oleh seoreang polisi bernama Miki (Lior Ashkenazi) yang kemudian mencurigai seorang guru sekolah bernama Dror (Rotem Keinan) sebagai pelakunya. Dror pun diintrogasi, namun apakah benar Dror adalah pelaku yang sebenarnya?

Satu-satunya alasan terkuat untuk menonton film ini adalah karena adanya pernyataan dari sutradara Quentin Tarantino yang menobatkan Big Bad Wolves sebagai film terbaiknya tahun 2013 lalu. Film yang berasal dari Israel ini disutradarai duo Aharon Keshales dan Navot Papushado yang juga sekaligus menulis naskah cerita dan menjadi editornya. Big Bad Wolves memulainya dengan santai lewat adegan pembukannya yang dibalut dengan slow motion membentuk sebuah motif masalah yang nantinya dijadikan pokok bahasannya. Ini adalah film tentang sebuah penculikan yang nantinya berubah haluan menjadi film tentang balas dendam.

February 7, 2014

Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring (2003)

“Lust awakens the desire to possess. 
And that awakens the intent to murder.” – Old Monk

Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring akan membagi ceritanya menjadi lima segmen yang saling berhubungan sesuai judulnya yang mewakili setiap musim itu. Dimulai dari Spring mengisahkan tentang seorang biksu tua renta (Oh Su-yeong) yang tinggal di sebuah kuil yang terapung di sebuah danau bersama seorang anak kecil (Kim Jong-ho). Segmen selanjutnya Summer mengisahkan si anak kecil tadi yang sudah tumbuh menjadi seorang biksu remaja (Seo Jae-kyeong), suatu ketika dia jatuh cinta dengan seorang wanita (Ha Yeo-jin). Sedangkan segmen Fall mengisahkan tentang biksu remaja tadi yang telah tumbuh menjadi biksu dewasa (Kim Young-min). Begitu juga dengan segmen Winter yang mengisahkan tentang biksu dewasa tadi menjadi biksu tua (Kim Ki-duk). Dan segmen yang terakhir and Spring mengisahkan tentang biksu tua tadi yang kini telah mengasuh anak kecil.

February 6, 2014

Cutie and the Boxer (2013)

“Live is wonderful. Life should be positive. When it’s blown to pieces, that’s when it becomes art.” – Ushio Shinohara.

Cutie and the Boxer mengisahkan tentang kisah pahit manis cinta sepasang suami istri asal Jepang yang kini menetap di Amerika; Ushio Shinohara dan Noriko Shinohara, mereka berdua terpaut usia cukup jauh. Mereka berdua adalah seorang seniman lukis.

Film dokumenter ini disutradarai oleh Zachary Heinzerling yang juga sekaligus menjadi produser dan sinematografernya. Cutie and the Boxer nampak di atas kertas memang seperti sebuah film romansa. Bagaimana disini diperlihatkan sebuah kisah percintaan dua sejoli yang begitu manis. Bagaimana mereka yang mempunyai minat yang sama dibidang seni lukis, yang akhirnya dari itu tumbuh itu butir-butir cinta. Bagaimana mereka berjuang bersama mempertahankan bahtera rumah tangga mereka walau beberapa kali sempat dihadang masalah. Disinilah kita akan melihat arti sebuah cinta yang sesungguhnya, sebuah ikatan suami istri yang begitu harmonis dan hangat. Membuat siapa pun yang melihat kisah cinta mereka akan terpukai akan keagungan cinta.

February 4, 2014

Artifact (2012)

We were backed into a corner. For us, it was all or nothing. Sometimes we must fight in order to be free.  Jared Leto

Film dokumenter ini disutradarai oleh aktor sekaligus vokalis dari grup band rock 30 Seconds to Mars, yakni Jared Leto dengan menggunakan nama samaran Bartholomew Cubbins. Artifact adalah sebuah film dokumenter yang mengisahkan tentang band rock asal Los Angeles, California, Amerika Serikat bernama Thirty Seconds to Mars yang bermasalah dengan label rekaman mereka EMI karena terjerat hutang 30 juta dollar yang entah bagaimana. Permasalahan itu pun diangkat ke perkara hukum dengan beberapa kali melakukan proses negosiasi.

Selain itu Artifact juga yang pada awalnya mengisahkan tentang bagaimana dibalik pembuatan album ketiga mereka Thirty Seconds to Mars yakni This Is War. Yang mana mereka melakukan proses rekaman sendiri menggunakan uang mereka dari hasil sisa keuntungan penjualan album pertama dan kedua mereka. Melakukan proses rekaman sendiri di sebuah rumah milik mereka diproduseri oleh produser bernama Flood. Pemilihan judul album This Is War itu juga menggambarkan bagaimana Jared Leto dan kawan-kawan menabuh genderang perang terhadap label rekaman mereka. Yang akhirnya album ketiga mereka itu pun rilis tahun 2009, dan terjual puluhan juta keping. Hingga sanggup melangsungkan tur konser bertajuk Into the Wild Tour dalam rangka mempromosikan album ketiga mereka itu.