Pages

August 10, 2013

Amour (2012)

Berlabel Palme d’Or di Cannes Film Festival 2012 lalu plus Best Foreign Language dan nominasi Best Picture Oscar tahun ini, Amour.

Amour mengisahkan tentang Georges (Jean-Louis Trintignant) dan Anne (Emmanuelle Rive), sepasang suami-istri yang sudah lanjut usia yang juga mantan guru musik. Suatu hari Anne mengalami serangan stroke yang parah dan mengakibatkan lumpuh, yang mengharuskan dia harus dirawat di rumah sakit. Georges pun harus merawat Anne dirumah.

Amour yang adalah bahasa Perancis jika diartikan ke bahasa Indonesia artinya cinta. Film yang disutradarai dan ditulis oleh Michael Haneke ini dibuka dengan adegan yang sebenarnya adalah ending dari film ini. Haneke coba menghadirkan sebuah romansa tentang arti sebuah cinta sejati dengan nada yang menyedihkan dibalik kelamnya penyakit stroke yang dilanda Anne. Berjalan dengan ritme yang lamban apalagi dalam durasi dua jam lebihnya yang depresif, Amour berpotensi membosankan bagi beberapa orang. Namun dibalik kesedihan ceritanya itu, Haneke berjasil menyampaikan pesan arti cinta sejati yang sebenarnya. Apalagi Haneke juga menyelipkan beberapa simbolisme yang jika kita sadar atau mungkin mengerti budaya orang Perancis sana yang tidak dapat diterjemahkan secara langsung.

August 8, 2013

Bully (2012)

Bully, film dokumenter yang kisahnya berfokus pada lima anak sekolah Amerika yakni Alex, Tyler, Ty, Kirby dan Ja’Meya yang mendapat kekerasan fisik dan dihina oleh teman-temannya disekolah.

Film yang awalnya berjudul The Bully Project ini pertama kali diputar di Tribeca Film Festival 2011 dan baru tayang perdana di bioskop Amerika pada 30 Maret 2012. Disutradarai oleh Lee Hirsch yang juga mengaku pernah menjadi korban bullying. Menyoroti kehidupan anak-anak yang hanya karena mereka berbeda seperti terlihat aneh, cacat fisik, atau gay. Mereka pun mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya seperti kekerasan fisik dan dihina yang fatalnya berakibat meninggal dunia karena bunuh diri akibat depresi.

Selain itu Bully juga mendapat banyak kontroversi, salah satunya ketika MPAA memberikan rating R terhadap film ini karena banyak mengandung bahasa yang kasar serta adegan kekerasan yang artinya penonton dibawah 17 tahun tidak dapat menyaksikannya. Dan ini tentu berbanding terbalik dengan visi sang sutradara yang mengharapkan film ini wajib untuk ditonton anak sekolahan. Akhirnya sebagai bentuk protes terhadap keputusan MPAA, Bully pun dirils tanpa rating. Menurut saya jikalau memang visinya seperti itu, selain merilis dilayar lebar kenapa tidak menyebarkan film ini di internet saja secara bebas. Ya walaupun pada akhirnya dirilis juga dengan rating PG-13. Lalu dari segi teknis juga film ini memang tampak berantakan.