Pages

January 31, 2014

Best Movies of 2013

Cukup telat memang setelah 2014 sudah berlalu satu bulan saya baru meluncurkan list Best Movies of 2013 saya. Sebenarnya deadline post ini tanggal 26 kemarin, tapi karena masih ada beberapa film yang saya kejar akhirnya molor sampai tanggal 30. Setelah bulan Januari ini saya kebut mengejar film-film yang berpotensi saya sukai. Tahun 2013 memang banyak film-film yang berkualitas, sehingga untuk menyusunnya menjadi 20 besar saja cukup sulit karena saya terpaksa harus menyingkirkan film bagus lain ke honorable mention. Lists dibawah ini pun tidak bisa dibilang the best sepenuhnya, karena ini adalah subjektif saya dan masih banyak juga film-film bagus yang belum saya tonton. Dan perlu diketahui, lists dibawah ini juga dapat berubah sewaktu-waktu jika ada penontonan ulang dan film-film lain yang baru saya tonton. So, without further ado, berikut film terbaik tahun 2013 versi Manusia Unta.

Moebius (2013)

Moebius mengisahkan tentang satu keluarga yang berisi ayah (Cho Jae-hyun), ibu (Lee Eun-woo) dan anak (Seo Young-joo). Suatu hari ketika sang ayah sedang bertelepon dengan selingkuhannya (juga diperankan Lee Eun-woo), sang ibu pun marah dan hendak memotong alat kelamin sang ayah. Untungnya sang ayah dapat menggagalkan niat gila istrinya itu. Namun sang ibu justru melampiaskan kemarahannya itu kepada anaknya, dia pun memotong alat kelamin anaknya sendiri. Sang anak pun begitu depresif, sang ayah pun berusaha semampu mungkin membantu untuk dapat melakukan implant alat kelamin anaknya.

FYI, ini adalah film ketiga dari Kim Ki-duk yang telah saya tonton setelah 3-Iron dan Pieta. Pada Moebius ini ceritanya sederhana, sederhana sekali. Bagaimana seorang anak lelaki yang harus menjalani hidupnya tanpa penis. Dan seperti yang kita ketahui, film-filmnya Kim Ki-duk memang selalu sarat dengan hal-hal yang berbau kekerasan dan seksual. Tidak terkecuali di Moebius, malahan dosis violence dan sexual-nya semakin meningkat. Bagian kekerasannya, jika anda berpikir adegan potong penis yang saya sebutkan di sinopsis itu adalah sudah begitu menyakitkan, bahkan menjijikan ketika sang ibu memakan potongan tersebut. Tunggu sampai Kim Ki-duk memberikan adegan itu berkali-kali dan memberikan adegan kekerasan lain yang tak kalah menyakitkannya, sebut saja salah satunya adalah bagaimana menjadikan rasa sakit sebagai media kenikmatan seksual.