November 7, 2013

3-Iron (2004)

“It’s hard to tell that the world we live in is either a reality or a dream”

3-Iron mengisahkan tentang seorang pria bernama Tae-suk (Kee Hyun-kyun) yang punya kebiasaan masuk kedalam rumah orang lain. Bukan maksud untuk mencuri, justru dia hanya melakukan pekerjaan rumah seperi, memasak, mencuci, bersih-bersih. Sampai suatu hari dia masuk ke sebuah rumah yang mana didalamnya ada seorang wanita bernama Sun-hwa (Lee Seung-yeon), yang selalu kena KDRT oleh suaminya. Karena suatu hal, mereka pun jatuh cinta.

Film yang mempunyai judul Korea Bin-Jip ini disutradarai dan ditulis oleh Kim Ki-duk.  Sutradara asal Korea Selatan yang terkenal dengan karya-karyanya yang super art-house. Saya memang baru menonton 2 filmnya yakni baru 3-Iron dan Pieta, dan saya sudah mulai menyukai gaya penyutradaraanya. Pada 3-Iron, alur ceritanya bertutur lamban dan naskahnya sebenarnya sederhana sekali. Dan yang paling terkenal dan unik dari karya kesebelas Kim Ki-duk ini adalah yang mana kedua pemeran utamanya sama sekali tidak berdialog, bahkan nyaris tak bersuara. Lee Hyun-kyun memerankan Tae-suk dari awal hingga akhir tidak mengeluarkan sepatah katapun dalam durasi 88 menitnya. Sedangkan Lee Seung-yeon memerankan Sun-hwa hanya mengatakan tiga kata saja, itupun diakhir film. Luar biasanya meskipun tanpa dialog, penonton masih bisa memahami ceritanya melaui ekspresi dan gestur mereka.

Hebatnya lagi ini adalah film romance, sekalipun tak ada dialog, chemistry antara Lee Hyun-kyun dan Lee Seung-yeon begitu erat. Juga yang menarik dari 3-Iron adalah film ini banyak berisi simbolisme yang diterjemahkan dalam bahasa visual. Di akhir film ada satu kutipan seperti yang saya sudah tulis diatas, sulit untuk mengetahui dunia yang kita huni adalah realita atau mimpi. Yang akhirnya membuat para penontonnya berinterpretasi sendiri. Mengenai judul 3-Iron, ternyata itu mengacu pada salah satu tongkat pemukul dalam permainan golf yang jarang digunakan. Banyak adegan yang memorable disini, yang paling legendaris tentu adegan ciuman di penghujung filmnya. Itu adalah adegan ciuman paling indah yang pernah saya lihat. Bicara masalah teknis, sinematografi di film ini super ciamik. Penataan gambar dengan komposisi visual yang indah. Musik, tahu betul dimana harus menempatkan scoring di tempat-tampat yang pas, sesekali juga diiringi alunan lagu Timur Tengah. Divisi akting, aspek ini sepertinya tidak perlu dibahas panjang lebar lagi. Sedikit trivia, Kim Ki-duk menulis naskah film ini hanya dalam 1 bulan, proses shooting hanya berlangsung selama 16 hari, dan proses editing selesai dalam 10 hari. Film ini juga berjaya di Venice Film Festival saat itu.

Secara keseluruhan 3-Iron adalah sebuah film drama-romance yang sangat bagus. Bagaimana bisa dengan naskah cerita yang sederhana tanpa dialog, namun mampu hadir dengan presentasi yang luar biasa hanya dengan memaksimalkan talenta kedua pemeran utamanya dan tentunya teknik penyutradaraan yang cerdas dari Kim Ki-duk. Apalagi didukung oleh aspek teknis yang apik. Ditambah lagi penuh dengan filosofi yang dalam, bagaimana memperlihatkan jarak yang tipis antara kenyataan dan mimpi. Pencapaian yang jelas hanya akan dilakukan oleh sutradara dengan visi luar biasa jenius.

9/10


No comments:

Post a Comment