Disebut-sebut sebagai sebagai salah
satu film drama courtroom terbaik,
film klasik hitam putih terbaik, dan mengantongi 3 nominasi Oscar pada
zamannya. Sudah cukup untuk membuat hati saya yakin-seyakin-yakinnya untuk
menonton film ini; 12 Angry Men.
12 Angry Men mengisahkan tentang dua belas juri yang ditugaskan
untuk memutuskan bersalah atau tidaknya seorang anak laki-laki yang telah
membunuh ayahnya sendiri. Keputusan harus dibuat secara bulat yakni 12 lawan 0,
tidak boleh ada satu juri pun yang berbeda. Pertemuan ini dipimpin oleh juri #1
(Martin Balsam), dia meminta untuk mengangkat tangan apakah anak itu bersalah
atau tidak kepada juri lainnya. Dan ternyata hasilnya 11 untuk bersalah dan 1 suara
untuk tidak bersalah, yakni juri #8 (Henry Fonda). Adu urat syaraf pun tidak
terelakkan, satu persatu argumen dilontarkan antar juri yang semakin membuat
diskusi semakin memanas.
Well, menonton sebuah film hitam putih memang tidak mudah. Apalagi
untuk kasus 12 Angry Men, selama satu
jam lebih melihat dua belas orang yang hanya beradu pendapat dalam satu
ruangan. Sebagian orang mungkin akan mengernyitkan dahinya jika ditawari film
ini. Apalagi masyarakat zaman sekarang sudah ter-mindset dipikirannya bahwa film jadul khususnya hitam putih adalah
film yang membosankan. You’re wrong man.
Namun percayalah, 12 Angry Men akan
membawamu kedalam sebuah pengalaman sinematis yang berbeda dan unik.
Membosankan? Absolutely no! Sidney
Lumet selaku sutradara tahu betul bagaimana caranya meramu sebuah film yang
sepertinya berpotensi membosankan menjadi sebuah drama yang sangat menarik dan
menegangkan. Beliau membuktikan sebuah film yang hebat tidak harus dibuat
dengan budget besar. Cukup dengan
kesederhanaan satu set ruangan dan dua belas aktor bertalenta super.




