Pages

Showing posts with label Movie. Show all posts
Showing posts with label Movie. Show all posts

February 25, 2016

Best Movies of 2015



Well bisa dibilang sangat terlambat untuk merilis susunan best movies of 2015 ketika tahun 2016 sudah berjalan 2 bulan lewat. Alasannya tak lain tak bukan karena saya ingin melunasi hutang film-film yang belum saya tonton dan ini pun masih ada yang belum terbayarkan. Dan tidak menutup kemungkinan list ini akan terus berubah seiring masih banyaknya film yang belum saya tonton. Film-film yang ada di list ini adalah film-film yang sanggup membuat saya berkesan secara personal. Kata best pun memang lebih tepat disebut favorite.

February 5, 2016

A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence (2014)


A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence mengisahkan tentang Sam (Nils Westblom) dan Jonathan (Holger Andersson) sales penjual mainan yang menjajakkan ke sana kemari berupa; gigi vampir, topeng paman gigi satu, dan kantong ketawa. Tujuan mereka menjual mainan tersebut adalah agar bisa menghibur para pembelinya.

February 6, 2014

Cutie and the Boxer (2013)

“Live is wonderful. Life should be positive. When it’s blown to pieces, that’s when it becomes art.” – Ushio Shinohara.

Cutie and the Boxer mengisahkan tentang kisah pahit manis cinta sepasang suami istri asal Jepang yang kini menetap di Amerika; Ushio Shinohara dan Noriko Shinohara, mereka berdua terpaut usia cukup jauh. Mereka berdua adalah seorang seniman lukis.

Film dokumenter ini disutradarai oleh Zachary Heinzerling yang juga sekaligus menjadi produser dan sinematografernya. Cutie and the Boxer nampak di atas kertas memang seperti sebuah film romansa. Bagaimana disini diperlihatkan sebuah kisah percintaan dua sejoli yang begitu manis. Bagaimana mereka yang mempunyai minat yang sama dibidang seni lukis, yang akhirnya dari itu tumbuh itu butir-butir cinta. Bagaimana mereka berjuang bersama mempertahankan bahtera rumah tangga mereka walau beberapa kali sempat dihadang masalah. Disinilah kita akan melihat arti sebuah cinta yang sesungguhnya, sebuah ikatan suami istri yang begitu harmonis dan hangat. Membuat siapa pun yang melihat kisah cinta mereka akan terpukai akan keagungan cinta.

February 4, 2014

Artifact (2012)

We were backed into a corner. For us, it was all or nothing. Sometimes we must fight in order to be free.  Jared Leto

Film dokumenter ini disutradarai oleh aktor sekaligus vokalis dari grup band rock 30 Seconds to Mars, yakni Jared Leto dengan menggunakan nama samaran Bartholomew Cubbins. Artifact adalah sebuah film dokumenter yang mengisahkan tentang band rock asal Los Angeles, California, Amerika Serikat bernama Thirty Seconds to Mars yang bermasalah dengan label rekaman mereka EMI karena terjerat hutang 30 juta dollar yang entah bagaimana. Permasalahan itu pun diangkat ke perkara hukum dengan beberapa kali melakukan proses negosiasi.

Selain itu Artifact juga yang pada awalnya mengisahkan tentang bagaimana dibalik pembuatan album ketiga mereka Thirty Seconds to Mars yakni This Is War. Yang mana mereka melakukan proses rekaman sendiri menggunakan uang mereka dari hasil sisa keuntungan penjualan album pertama dan kedua mereka. Melakukan proses rekaman sendiri di sebuah rumah milik mereka diproduseri oleh produser bernama Flood. Pemilihan judul album This Is War itu juga menggambarkan bagaimana Jared Leto dan kawan-kawan menabuh genderang perang terhadap label rekaman mereka. Yang akhirnya album ketiga mereka itu pun rilis tahun 2009, dan terjual puluhan juta keping. Hingga sanggup melangsungkan tur konser bertajuk Into the Wild Tour dalam rangka mempromosikan album ketiga mereka itu.

January 31, 2014

Moebius (2013)

Moebius mengisahkan tentang satu keluarga yang berisi ayah (Cho Jae-hyun), ibu (Lee Eun-woo) dan anak (Seo Young-joo). Suatu hari ketika sang ayah sedang bertelepon dengan selingkuhannya (juga diperankan Lee Eun-woo), sang ibu pun marah dan hendak memotong alat kelamin sang ayah. Untungnya sang ayah dapat menggagalkan niat gila istrinya itu. Namun sang ibu justru melampiaskan kemarahannya itu kepada anaknya, dia pun memotong alat kelamin anaknya sendiri. Sang anak pun begitu depresif, sang ayah pun berusaha semampu mungkin membantu untuk dapat melakukan implant alat kelamin anaknya.

FYI, ini adalah film ketiga dari Kim Ki-duk yang telah saya tonton setelah 3-Iron dan Pieta. Pada Moebius ini ceritanya sederhana, sederhana sekali. Bagaimana seorang anak lelaki yang harus menjalani hidupnya tanpa penis. Dan seperti yang kita ketahui, film-filmnya Kim Ki-duk memang selalu sarat dengan hal-hal yang berbau kekerasan dan seksual. Tidak terkecuali di Moebius, malahan dosis violence dan sexual-nya semakin meningkat. Bagian kekerasannya, jika anda berpikir adegan potong penis yang saya sebutkan di sinopsis itu adalah sudah begitu menyakitkan, bahkan menjijikan ketika sang ibu memakan potongan tersebut. Tunggu sampai Kim Ki-duk memberikan adegan itu berkali-kali dan memberikan adegan kekerasan lain yang tak kalah menyakitkannya, sebut saja salah satunya adalah bagaimana menjadikan rasa sakit sebagai media kenikmatan seksual.

January 30, 2014

August: Osage County (2013)

August: Osage County mengisahkan tentang Violet Weston (Meryl Streep) yang baru saja ditinggal suaminya Beverly Weston (Sam Shepard) setelah bunuh diri. Dalam rangka pemakaman Beverly, seluruh anggota keluarganya pun berkumpul dalam satu rumah. Mulai dari ketiga putri tercintanya; Barbara (Julia Roberts), Karen (Juliette Lewis) dan Ivy (Julianne Nicholson) hingga menantu, cucu, dan adiknya pun turut datang. Mulai dari pertemuan keluarga itulah muncul percekcokkan antar keluarga yang diliputi perdebatan besar.

Film ini diadaptasi berdasarkan salah satu pementasan teater yang pernah mendapat Pulitzer Award berjudul sama milik Tracy Letts, yang mana dia juga menjadi penulis naskahnya disini. Sedangkan dibangku sutradara diisi oleh John Wells. August: Osage County memfokuskan ceritanya pada sebuah keluarga besar yang “gila”. Namun ini bukan malah menjadi sebuah sajian yang membosankan. Beruntungnya film ini ditulis oleh orang yang tepat, yakni si pemiliknya sendiri: Tracy Letts. August: Osage County punya fondasi struktur cerita yang kuat sedari awal hingga akhir. Diawali dengan sabar memperkenalkan karakter-karakternya, siapa ini siapa itu, memberikan satu akar masalah yang mengharuskan semua anggota keluarga berkumpul. Dan kisah yang sebenarnya pun dimulai.

Inside Llewyn Davis (2013)

“If it was never new, and it never gets old, then it’s a folk song.” – Llewyn Davis

Inside Llewyn Davis mengisahkan tentang Llewyn Davis (Oscar Isaac) seorang penyanyi music folk yang baru saja ditinggal mati partnernya karena bunuh diri. Keeksistensiannya pun dipertaruhkan ketika dia tidak punya tempat tinggal dan harus tinggal dengan temannya Jean Barkey (Carey Mulligan) dan berpindah-pindah ketempat lain. Untung dia masih punya orang-orang yang mau berbaik hati kepadanya untuk melanjutkan karirnya, namun saying itu tidak berjalan mulus karena sikap negatif Davis yang kadang memutarbalikkan hasilnya.

Film ini disutradarai oleh Coen Brothers: Joel Coen dan Ethan Coen yang juga sekaligus menulisnya, ceritanya terinspirasi dari seorang penyanyi folk Dave Van Ronk. Mengisahkan tentang sosok Llewyn Davis yang harus mempertahankan hidupnya dalam artian berjuang untuk pekerjaannya. Bagaimana sosoko Llewyn Davis yang disini digambarkan sebagai seorang yang sial, mulai dari kematian partnernya yang bunuh diri, kehilangan pekerjaan, usaha-usaha yang berakhir nihil dan segudang masalah-masalah lainnya. Namun sosok Llewyn Davis disini mampu berjuang mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan memanfaatkan kesempatan dan kemungkinan sekecil apapun agar bisa menjadi suatu yang lebih besar. Tidak peduli berapa kali dia gagal, berapa kali dia tertimpa sial, dia tetap survive. Apalagi Llweyn Davis yang disini untungnya masih memiliki sahabat-sahabat atau orang-orang yang ia kenal atau bahkan tidak kenal sekalipun yang masih memiliki hati mulia yang bersedia menolongnya. Sosok Llweyn Davis disini benar-benar diuji, mencoba menghilangkan kebiasaan buruknya seperti sikap ambisius, ceroboh dan keras kepala. Ya, ini seperti sebuah studi karakter. Dalam durasi satu setengah jam lebihnya, film ini memang diselimuti tone sendu dengan sedikit bumbu komedi dalam dosis kecil.

January 29, 2014

Jackass Presents: Bad Grandpa (2013)

Jackass Presents: Bad Grandpa mengisahkan tentang seorang kakek berjiwa muda bernama Irving Zisman (Johnny Knoxville). Dia punya seorang anak perempuan, Kimmie (Georgina Cates), dan seorang cucu, Billy (Jackson Nicoll). Sayangnya ibu dari Billy adalah seorang yang tidak baik. Ibunya pun meminta kepada Irving untuk membawa Billy ke tempat ayahnya, Chuck (Greg Harris) yang juga sialnya sama-sama seorang bapak yang tidak baik. Irving dan Billy pun melakukan perjalanan menuju tempat bapaknya Billy, selama perjalanan mereka berdua melakukan hal-hal gila.

Film ini disutradarai oleh sutradara film Jackass sebelumnya yakni Jeff Tremaine, sekaligus juga menulis screenplay-nya bersama aktornya Johnny Knoxville dan Spike Jonze. Well, tahu dong Jackass? Sekumpulan pria bangsat tak takut mati yang melakukan aksi stunt dan prank. Setelah Jackass: The Movie, Jackass: Number Two dan Jackass 3D, kali ini mereka kembali hadir lewat Jackass Presents: Bad Grandpa. Namun ada dua perbedaan signifikan di film mereka kali ini. Pertama, jika di film-film sebelumnya mereka melakukannya secara bersama-sama, namun disini hanya akan ada Johnny Knoxville. Kedua, jika di film-film sebelumnya mereka melakukan aksi gila hanya sebatas dokumenter biasa, namun disini memiliki plot dengan cerita sederhana.

January 28, 2014

Short Term 12 (2013)

“It’s impossible to worry about anything else when there’s blood coming out of you.” – Grace

Short Term 12 mengisahkan tentang sebuah tempat yang memfasilitasi anak-anak remaja yang mempunyai masalah, dengan memiliki beberapa supervisor-nya yakni Grace (Brie Larson), Mason (John Gallagher Jr.) dan seorang pria yang tengah magang disana, Nate (Rami Malek). Yang mana di tempat ini salah dua remajanya yakni Jayden (Kaitlyn Dever) dan Marcus (Keith Stanfield) memiliki keperibadia yang sedikit berbeda dimana bisa saja mereka “meledak-ledak”. Lantas bisakah Grace dan kawan-kawan memberikan sebuah lingkungan yang nyaman bagi para remajanya.

Film ini disutradarai oleh Destin Cretton sekaligus menulis screenplay-nya berdasarkan film pendeknya sendiri berjudul sama. Mengusung tema coming-of-age, bagaimana menceritakan sekumpulan anak-anak bermasalah yang dirawat agar menjadi lebih baik. Memberikan kehangatan dan keceriaan dibalik masa lalu yang kelam dan pedih. Short Term 12 bergerak dengan santai dan tenang, mengalir dengan alami memberikan kita kedekatan terhadap karakternya. Hadir tanpa adanya melodrama yang kelewat berlebihan, memberikan masalah-masalah dengan tatanan yang pas diselipkan di atmosfernya yang hangat itu.

January 26, 2014

Stories We Tell (2012)

“When you’re in the middle of a story, it isn’t a story at all but rather a confusion, a dark roaring, a blindness, a wreckage of shattered glass and splintered wood, like a house in a whirlwind or else a boat crushed by the iceberg or swept over the rapids, and all abroad are powerless to stop it. It’s only afterwards that it becomes anything like a story at all, when you’re telling it to yourself or someone else.” – Michael Polley

Stories We Tell mengisahkan tentang Sarah Polley  yang telah kehilangan ibu tercintanya, Diane Polley meninggal dunia ketika ia masih berumur 11 tahun karena mengidap penyakit kanker. Sarah pun membuat sebuah dokumenter yang mana itu meng-interview anggota keluargnya lalu menceritakan kembali seperti apa ibunya, mulai terungkap satu per satu informasi.

Film dokumenteri ini disutradarai oleh Sarah Polley (Away From Her, Take This Waltz) yang juga sekaligus menulis naskah ceritanya. Stories We Tell memfokuskan ceritanya pada masalah personal sang sutradara sendiri. Yang mana ini menitik beratkan pada misteri dan rahasia keluarganya khususnya ibunya sendiri. Memberikannya dengan data-data dan fakta-fakta yang detil. Melakukannya dengan interview beberapa keluarganya; kakak, adik, ayah, teman dekat ibunya, dll. Mereka memberikan perspektif sendiri-sendiri mengenai mendiang ibu Sarah, menceritakan setiap kronologi dengan sabar. Menelusuri ingatan manusia hanya untuk mencari sebuah kebenaran, ingin mengetahui bagaimana dan seperti apa yang sebenarnya terjadi sebelum Sarah lahir karena dia yang ditinggal mendiang ibunya ketika umur 11 tahun. Seiring waktu berjalan, ini tidak lagi hanya sekedar mengenal ibu lebih jauh. Namun ini akan lebih jauh bergerak pada kehidupan ibunya yang sangat personal, mulai dari situ sedikit demi sedikit mulai terkuak rahasia yang selama ini dirahasiakan. Uniknya saya merasa setiap interview itu bukan hanya sekedar memberikan pendapat sendiri-sendiri, melainkan itu seperti saling melengkapi kisah mereka satu sama lainnya.

Lone Survivor (2013)

“You die for you country, I’m going live for mine.” – Axe

Lone Survivor mengisahkan tentang  sebuah misi bernama Operation Red Wings yang dipimpin oleh Letnan Michael Murphy (Taylor Kitsch) dengan membawa prajurit; Marcus Luttrell (Mark Wahlberg), Danny Dietz (Emile Hirsch) dan Matthew Axelson (Eric Bana). Operation Red Wings adalah sebuah misi penagkapan Ahmad Shah, dia adalah pimpinan kelompok Taliban yang sadis dan telah membunuh banyak jiwa. Berhasilkah mereka?

Disutraadarai oleh Peter Berg (The Kingdom, Hancock, Battleship) juga sekaligus bergerak sebagai penulis screenplay-nya mengadaptasi dari buku berjudul sama karangan Marcus Luttrell berdasarkan kisah nyatanya mengenai kegagalan Navy SEAL pada Operation Red Wings tahun 2005. Well, setelah Battleship yang luar biasa dicaci kritikus luar sana, Berg sepertinya sadar apa kesalahannya. Sekarang lewat Lone Survivor dia akan membawa kita ke medan perang. Jika membaca judulnya tentu kita sudah mengetahui arah ceritanya bagaimana, apalagi ini diperjelas pada adegan pembukanya yang menampilkan Mark Wahlberg yang sedang kritis. Dibuka dengan rekaman-rekaman asli latihan super keras militer Amerika. Setelah itu memberukan ruang untuk kita mengenal terlebih dahulu kwartet prajurit pemberani itu. Lalu tanpa basa-basi kita langsung dibawa keatas bukit antah berantah di Afghanistan. Kita akan melihat bagaimana taktik militer hingga sampai ke bagian action-nya yakni baku tembak jual beli peluru dalam dosis tinggi dan ledakan bom dalam skala besar. Koregrafi action-nya begitu meyakinkan, intens dan menegangkan.

January 25, 2014

Blue Is the Warmest Color (2013)

Satu-satunya alasan bahwa saya ingin menonton film ini adalah adanya fakta bahwa film ini berhasil meraih Palme d’Or yakni film terbaik di Cannes Film Festival 2013, Blue Is the Warmest Color.

Blue Is the Warmest Color mengisahkan tentang seorang gadis bernama Adèle (Adèle Exarchopoulos) seorang yang polos terhadap cinta. Dia pun mencoba berpacaran dengan teman lelaki di sekolahnya, Thomas (Jeremie Laheurte). Namun dia tidak merasakan suatu gejolak cinta yang dalam. Sampai suatu hari Adèle pergi ke sebuah gay bar, disana dia bertemu dengan seoran gadis tomboy bernama Emma (Léa Seydoux). Mereka berdua pun semakin dekat dan akhirnya tumbuh rasa cinta diantara mereka.

Film yang berjudul Perancis La Vie d’Adèle – Chapitres 1 & 2 ini disutradarai oleh Abdellatif Kechiche yang juga sekaligus menulis screenplay-nya bersama Ghalia Lacroix mengadaptasi dari novel grafik berjudul sama karangan Julie Maroh. Film mengisahkan tentang perjalanan hitam putih hubungan percintaan sesama jenis antara Adèle dan Emma. Namun ini jauh dari sekedar kisah romansa, ini jauh lebih ke arah kisah coming-of-age. Bagaimana seorang gadis yang tengah tumbuh dewasa, mencari jati dirinya, dan merasakan pengalaman kisah cinta serba pertama. Lalu disaat gadis ini sudah nyaman dengan kondisinya sekarang terperangkap dalam gejolak cinta yang tidak semestinya, dia pun terjebak dalam zona nyamannya sendiri yang justru itu memberikan sesuatu yang kompleks nantinya. Blue Is the Warmest Color memulainya dengan sabar, memberikan kita ruang untuk mengenal terlebih dahulu sosok gadis cantik Adèle. Perlahan namun pasti dia mulai mengeluarkan taji ceritanya. Arah kisah romansanya cukup gampang ditebak, yang mana faktor kecemburuan menjadi penyebab masalah. Akhirnya muncul suatu permasalahan yang emosional.

January 24, 2014

Saving Mr. Banks (2013)

“Disappointments are to the soul what the thunderstorm is to the air.” – Travers

Saving Mr. Banks mengisahkan tentang Pamela Lyndon Travers (Emma Thompson) seorang penulis yang salah satu karyanya adalah Marry Poppins. Karyanya pun menarik perhatian seorang tokoh terkenal bernama Walt Disney (Tom Hanks) untuk diadaptasi. Namun hal untuk mengadaptasinya tidaklah mudah, selain bahwa sosok Travers yang menjengkelkan selama produksi, ternyata karyanya itu menyimpan banyak kisah-kisah masa kecil yang begitu personal.

Disutradarai oleh John Lee Hancock (yang dikenal lewat The Blind Side (2009)). Screenplay-nya ditulis berdua oleh Kelly Marcell dan Sue Smith. Saving Mr. Banks mengisahkan tentang bagaimana proses dibalik layarnya dalam produksi pembuatan Mary Poppins milik P. L. Travers. Well, mereka membagi cerita Saving Mr. Banks dalam dua masa, yakni pada masa Travers memproduksi Mary Poppins dan pada masa kecil Travers. Dua masa saling bergantian memberikan ceritanya dalam porsi yang seimbang yang mana saling mendukung terhadap kelanjutan cerita di satu sisi. Khususnya pada masa depan dimana Travers bernostalgia dan merenungi masa lalu kecilnya itu, masuk kedalam kenangan masa lalu yang menciptakan tali emosional. Namun harus diakui di beberapa bagian transisi atau perpindahan antara masa depan dan masa lalunya terasa kasar. Dan jujur saya baru sadar bahwa Saving Mr. Banks punya dua cerita; masa depan dan masa lalu setelah satu jam berlangsung. Awalnya saya kira ini memang sama-sama dua cerita di masa depan namun di tempat yang berbeda.

January 23, 2014

The Broken Circle Breakdown (2012)

“Life is not generous.” - Elise

The Broken Circle Breakdown mengisahkan tentang sepasang suami istri; Didier Bontinck (Johan Heldenbergh) seorang pemain banjo dalam sebuah grup band dan Elise Vandelvelde (Veerle Baetens) seorang tukang tato. Mereka mempunyai anak perempuan bernama Maybelle (Nell Cattrysse), yang suatu hari diketahui telah mengidap kanker dan harus menjalani kemoterapi. Namun naas, Maybelle menghembuskan nafas terakhirnya. Mereka berdua pun harus menjalani kehidupan sehari-hari dibawah baying-bayang kelam kematian mendiang putri mereka.

Ditulis oleh Felix Van Groningen yang juga bertindak sebagai sutradaranya bersama Carl Joos, berdasarkan drama panggung yang ditulis Johan Heldenbergh  dan Mieke Dobbets. Memberikan kisah mengenai hitam putihnya sebuah hubungan percintaan suami istri. Mengupas habis tetek bengek kehidupan rumah tangga dengan segala problematika seperti masalah anak, pertengkaran, beda persepsi dll. Alur cerita The Broken Circle Breakdown bergerak dengan non-linear. Yakni bergerak maju mundur, melompat-lompat dari satu masa ke masa. Yang mana itu menariknya berjalan silih bergantian antara atmosfer bahagia dan sedih. Emosi penonton akan dibuat naik turun dengan tone ceritanya yang selang-seling itu, mampu mengontrol emosi penontonnya dengan baik. Punya momen-momen emosional yang mempermainkan perasaan. Uniknya kita tidak perlu membangun emosi kembali ketika dihadapkan pada situasi yang emosional karena adanya perubahan tone ceritanya itu, ya karena sedari awal kita memang sudah terikat dengan ceritanya. Selain mengenai hubungan drama dan romansa kehidupan mereka. The Broken Circle Breakdown Sesekali juga ceritanya merembet ke ranah agama dan politik, di menjelang akhir ceritanya tepatnya.

Blue Jasmine (2013)

“Anxiety, nightmares and a nervous breakdown, there’s only so many traumas a person can withstand until they take to the streets and start screaming.” – Jasmine

Blue Jasmine mengisahkan tentang Jeanette “Jasmine” Francis (Cate Blanchett) seorang wanita yang telah ditinggal suaminya yang kaya raya karena suatu kasus, Hal (Alec Baldwin). Meninggalkan Jasmine dengan tanpa rumah dan uang. Jasmine pun tinggal sementara dengan saudarinya, Ginger (Sally Hawkins). Mulai saat itulah Jasmine mencoba untuk move on dari keterpurukan masa lalunya yang kelam itu. Dia mencoba untuk mencari pekerjaan dan pasangan hidup baru.

Film ini disutradarai oleh seorang sutradara yang begitu produktif yang mana hampir setiap setiap tahun selalu menelurkan film, namun karya-karyanya naik turun secara kualitas, ya Woody Allen. Di Blue Jasmine juga sekaligus bertindak menulis screenplay-nya. Tidak ada sesuatu yang baru dari film teranyar Allen ini, masih mengusung beberapa pakemnya seperti di filmnya sebelumnya. Tapi Allen berhasil mengelola materi yang sederhana itu dengan baik. Memfokuskan ceritanya terhadap karakter Jasmine melalui studi karakter darinya yang tengah move on dari kerapuhan. Mengusung cerita yang sederhana namun efektif menghasilkan masalah-masalah kecil kompleks. Punya warna cerita yang ceria namun juga depresif disaat bersamaan. Alur ceritanya bergerak maju mundur, dengan beberapa flashback yang berpadu serasi silih berganti dengan kejadian masa kininya. Bagian-bagain dramanya yang dibumbui komedi dengan pas, tanpa harus terlihat tumpang tindih dan jatuh terlalu jauh ke zona komedi. Punya dereten dialog-dialog cerdas yang kuat, mulai dari perdebatan hinggan selipan komedinya.

January 22, 2014

Blackfish (2013)

“They’re not your whales. They own them!”

Blackfish memfokuskan ceritanya pada seekor ikan paus atau killer whale atau orca bernama Tilikium. Tilikium adalah salah satu orca yang menjadi artis petunjukan dia SeaWorld. Yang mana suatu hari muncul kabar bahwa Tilikium telah menyebabkan kematian yang merenggut nyawa dari pelatihnya sendiri bernama Dawn Brancheau. Insiden ini pun memunculkan dua argumen berbeda mengenai penyebab dari peristiwa tersebut. Yang manakah yang benar diantara dua argumen itu?

Disutradarai oleh Gabriela Cowperthwaite dengan naskahnya ditulis bertiga bersamanya Eli Depres dan Tim Zimmermann. Blackfish adalah sebuah film dokumenter yang menitikkan pada persoalan abu-abu killer whale atau orca. Bagaimana  dokumenter ini membongkar rahasia-rahasia yang selama ini ditutupi dibalik praktik pertunjukan manisnya. Bagaimana dimulai dari proses penangkapannya di laut lepas ribuan kilometer sana yang keji sampai pada proses training untuk dilatih beberapa trik-trik gerakan agar bisa menghibur para penontonnya. Bahkan kerap kali orca diperlakukan dengan keras hingga tidak diberi makan sebagai sebuah bentuk hukuman karena mereka yang memberi performa buruk. Dibalik kelihatan luarnya yang memang bersahabat dan lucu, orca ternyata bisa merenggut nyawa manusia. Orca diketahui adalah hewan bersahabat dan sensitif, dia dapat sewaktu-waktu merasa bosan, frustasi, sedih hingga marah. Sejumlah kasus menyebutkan bahwa orca-orca ini menyerang manusia karena mereka yang berubah buas. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa kasus ini terjadi murni karena kecelakaan si trainernya saja, bukanlah salah orca.

January 21, 2014

Her (2013)

Karena hubungan cinta antara manusia dan manusai sudah terlalu mainstream. Maka Spike Jonze mencoba menghadirkan kisah cinta berbeda antara manusia dan sistem operasi komputer lewat film terbarunya Her.

Her mengisahkan tentang Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) seorang pria kesepian yang bekerja sebagai penulis surat. Suatu hari dia membeli sebuah operating system yang intelegensi artifisial yang memang dirancang agar dapat berinteraksi dengan manusia. Theodore pun mendapatkan sebuah OS seorang wanita bernama Samantha (Scarlett Johansson). Dia tidak lagi kesepian, hari-harinya ditemani oleh suara Samantha, dan mulai tumbuh perasaan diantara mereka sampai akhirnya menjalin sebuah hubungan cinta yang unik.

Disutradarai oleh Spike Jonze (Being John Malkovich, Adaptation, Where the Wild Things Are) dan tidak seperti di film-filmnya sebelumnya, yang mana filmnya selalu dibantu oleh penulis cerdas Charlie Kaufman dalam hal screenplay. Kali ini dia menulisnya sendiri, dan jika melihat hasil akhir dari Her, sepertinya dia telah belajar banyak dari sesepuhnya itu. Satu kata yang pantas disematkan kepada Her adalah brilian. Di film keempatnya ini, Spike Jonze menghadirkan kisah cinta yang berpadu dengan unsur science-fiction. Bagaimana hubungan romansa yang awkward antara seorang manusia dan operating system. Ini tidak hanya brilian, namun juga unik. Sedari awal Her memang sudah memperlihatkan tajinya bahwa film ini akan menjadi film romance yang superb dan loveable. Punya banyak momen dan dialog yang manis dan romantis. Ini adalah suatu contoh film romansa yang bagus tanpa harus menghadirkan deretan adegan erotis. Dengan hanya bermodalkan fondasi cerita yang kokoh dan dialog yang kuat, maka Her dengan mudahnya menjelma menjadi sebuah romansa yang begitu membuai.

January 20, 2014

Dallas Buyers Club (2013)

“Watch what you eat and who you eat.” – Ron Woodroof

Dallas Buyers Club mengisahkan tentang Ron Woodroof (Matthey McConaughey) seorang ahli listrik sekaligus cowboy rodeo yang suatu hari dia divonis positif mengidap AIDS oleh dua orang dokter; Dr. Sevard (Michael O’Neill) dan Dr. Eve Saks (Jennifer Garner), dan hidupnya hanya bertahan 30 hari lagi. Dia pun melakukan penelitian kecil sendiri, dan mengetahui bahwa obat bernama AZT dapat menambah kemungkinan hidupnya. Namun obat itu masih illegal, dia pun berusaha mencari sendiri obat tersebut. Bersama dengan rekannya Rayon (Jared Leto), Woodroof memutuskan untuk memperjual-belikan AZT dan obat-obat bagi para pengidap AIDS lainnya secara rahasia dengan membentuk sebuah klub bernama Dallas Buyers Club.

Dengan Jean-Marc VallĂ©e sebagai sutradaranya sedangkan screenplay-nya ditulis oleh Craig Borten dan Melisa Wallack berdasarkan kisah nyata dari seorang Ron Woodroof yang berjuang mempertahankan hidupnya. Memulai dua pertiga filmnya dengan kisah survival terhadap penyakitnya. Bagimana saat dia pertama kali divonis positif AIDS dan hidupnya tinggal 30 hari lagi, lalu dengan sikap egoisnya dia merasa tidak ada yang bisa mengambil nyawanya. Juga bagaimana ketika Woodroof yang mencari obat untuk penyakitnya itu sendiri tanpa lewat media rumah sakit. That’s interesting. Tapi yang paling menarik bagi saya adalah bagian ketika sosok Woodroof yang disini dikucilkan dan dihina teman-temannya. Sebenarnya pada bagian ini punya potensi untuk membuat sesuatu yang simpatik dan emosional lalu muncul ledakan emosi dipenghujung ceritanya yang bikin ini film ciamik punya. Tapi Dallas Buyers Club tidak ada itu, harus diakui saya tidak terlalu bersimpatik terhadap tokoh Woodroof disini.

January 19, 2014

The Wolf of Wall Street (2013)

“The easiest way to make money is create something of such value that every body wants and go out and give and create value, the money comes automatically.”

The Wolf of Wall Street mengisahkan tentang Jordan Belford (Leonardo DiCaprio) seorang pialang saham kaya berekihdupan mewah yang pada suatu hari akibat sebuah peristiwa saham, tempat dia bekerja bangkrut. Dia pun bangkit dan bergabung ke perusahaan baru, bersama Donni Azoff (Jonah Hill) dan beberapa orang lain. Mereka pun menuai kesuksesan hingga Jordan mendapatkan seorang wanita cantik yang dinikahinya bernama Naomi Lapaglia (Margot Robbie). Namun salah satu agen FBI, Patrick Denham (Kyle Chandler), mencium adanya keanehan di perusahaan Jordan tersebut.

Disutradarai oleh Martin Scorsese dengan screenplay-nya ditulis ulang oleh Terence Winter berdasarkan memoir berjudul sama karangan Jordan Belfort sendiri. Well, film yang menandai kolaborasi kelima Scorsese dan Leonardo DiCaprio ini lebih mengisahkan tentang kehidupan hedonisme seorang Jordan Belford. The Wolf of Wall Street berjalan dengan alur dan tempo yang cukup cepat dan asyik serta dengan pergerakan ceritanya yang dinamis, namun lama-kelamaan mulai terasa cukup melelahkan hingga durasinya yang mencapai 3 jam itu. Film ini punya banyak dialog-dialog cerdas seputar masalah keuangan, saham dan perusahaannya, di beberapa bagian menghadirkan tips-tips bisnis. Namun disisi lain film yang punya rating R ini juga punya banyak dialog-dialog kasar dan jorok, penuh dengan sumpah serapah dan kalimat vulgar. Ya alhasil film ini banyak dilarang penayangannya di beberapa negara karena banyak mengandung adegan-adegan yang melibatkan konten seksual, nudity, pemakaian drugs dan bahasa kasarnya. Trivia: film ini menggunakan kata f*ck sampai 569 kali.

January 18, 2014

The Secret Life of Walter Mitty (2013)

“TO SEE THE WORLD, THINGS DANGEROUS TO COME TO, TO SEE BEHIND WALLS, TO DRAW CLOSER, TO FIND EACH OTHER AND TO FEEL. THAT IS THE PURPOSE OF LIFE.”

The Secret Life of Walter Mitty mengisahkan tentang Walter Mitty (Ben Stiller) seorang pekerja di sebuah majalah bernama LIFE. Tugasnya adalah menyusun foto-foto untuk cover majalah. Suatu hari sebuah klise foto penting bernomor 25 tiba-tiba hilang. Yang semestinya foto tersebut harus dimuat di cover majalah LIFE edisi terakhir. Walter pun berusaha untuk menemukan klise foto tersebut sampai harus membahayakan keselamatan dirinya.

Film ini disutradarai sendiri oleh pemeran utamanya Ben Stiller. Dengan screenplay-nya ditulis oleh Steve Conrad berdasarkan cerita pendek berjudul sama karangan James Thurber. Well, kalau boleh saya bilang The Secret Life of Walter Mitty adalah sebuah film dengan multi genre. Selain drama, film ini juga dibalut komedi, romansa, fantasi, adventure bahkan action (sedikit). Drama, mungkin sisi inilah yang paling dominan. Bagaimana tokoh Walter disini dihadapkan dengan masalah-masalah kompleks. Dihadapkan dalam posisi harus mengambil resiko, walau sekalipun itu dapat membahayakan nyawanya. Bagaimana sikap pantang menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Terus berjuang mewujudkan mimpi-mimpinya, tidak hanya duduk diam berangan-angan semata. Tampak dari bungkusnya The Secret Life of Walter Mitty memang nampak seperti film yang begitu inspiratif, berisi banyak momen dan kata-kata motivatif.