August 26, 2013

Persepolis (2007)

It was thrilled by ‘Persepolis’, a brilliant animated version of Marjane Satrapi’s spirited autobiographical novels, easily one of the most successful comic-book-page-to-screen translations I’ve seen, fluid and inventive – Entertainment Weekly.

Persepolis mengisahkan tentang Marjane, anak perempuan yang harus menghabiskan masa kecilnya di  masa-masa revolusi  negara Iran yang tengah bergejolak hingga menjadi negara Islam. Perubahan sistem negara ini pun bukannya menjadi lebih baik, malah kebebasan mereka semakin sempit. Apalagi diperparah dengan serangan dari negara lain. Yang membuat Marjene harus dikirim ke Vienna, Austria untuk melanjutkan sekolahnya karena keadaan negaranya yang sudah tidak aman lagi.

Film animasi ini diadaptasi dari novel grafis karya Marjane Satrapi, yang juga sekaligus menjadi sutradaranya bersama Vincent Paronnaud. Persepolis hadir dengan gaya animasi yang bisa dibilang unik dan artistik yakni kira-kira 95% dibalut hitam putih, apalagi pada saat itu yang dunia animasi sedang digempur hebat oleh Pixar dan Dreamworks bahkan Disney, keputusan Marjane dan kawan-kawan bisa dibilang cukup berani. Namun justru gaya animasinya itu menjadi keunggulan tersendiri dari film ini. Tidak hanya dari gaya animasi yang terbilang berani, tapi juga dari ceritanya. Ceritanya yang ternyata adalah autobiografi dari sang penulis sendiri. Mengangkat cerita bernuansa politis yakni pada masa pergolakan politik negara Iran yang memanas karena penentangan terhadap rezim Syah Iran waktu itu hingga perang Iraq-Iran.

Selain itu, Persepolis juga mengangkat banyak isu seperti westernisasi. Persepolis juga bisa dibilang sebagai sebuah film bertema coming-of-age. Bagaimana kita melihat sosok Marjane dari seorang gadis kecil hingga dewasa berpindah tempat antara Teheran dan Vienna ditengah-tengah kondisi negaranya yang rumit. Juga jika kita lihat cerita dan gaya animasinya, mungkin Persepolis tampak begitu membosankan. Tidak, untungnya animasi ini disajikan dengan alur penceritaan yang santai dan asyik. Beberapa kali diselipi momen komedi yang cukup nendang, ditambah dengan scoring music-nya yang setia mengawal cerita. Apalagi didukung oleh para pengisi suara yang begitu menghidupkan karakter. Dan film ini juga dilarang penayangannya di Iran, mungkin karena ceritanya dan juga ada penggambaran tuhan kali ya.

Secara keseluruhan Persepolis adalah sebuah animasi coming-of-age yang unik dan berani dibalik ceritanya yang bernada politis dengan balutan layar hitam putihnya yang menawan. Alhasil Persepolis meraih banyak penghargaan seperti Jury Prize di Cannes Film Festival 2007 dan masuk nominasi animasi terbaik di Oscar – walau akhirnya dikalahkan Ratatouille, serta menjadi perwakilan Perancis untuk best foreign language film, namun sayang tidak masuk nominasi.

8/10


3 comments:

  1. Menurut saya sih terlalu setia sama komiknya, saya jadi bosan deh nontonnya, haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih, kalo orang yang gak terbiasa pasti bosan, hahaha..

      Delete
  2. tapi menurut saya, film ini unik, dan banyak orang belum tau film seperti ini, cerita dan visualnya sangat membangun walau terkadang virus bosan menghampiri di setiap alur crita.

    ReplyDelete