February 22, 2013

Les Misérables (2012)

Tom Hooper, sutradara yang pada tahun 2010 lalu berhasil membawa The King’s Speech meraih predikat sebagai best picture diajang Acedemy Award ke 83. Dan kini tahun 2012 lalu dia kembali membuat ulah dengan film terbarunya. Mengusung genre yang tidak terlalu digandrungi orang, yaitu film musikal. Film itu berjudul Les Misérables, dan hebatnya filmnya kembali dinominasikan di Oscar. Jadi, apakah Tom Hooper mampu membawa piala emas tersebut bersama Les Misérables seperti apa yang dia lakukan dua tahun lalu.

Les Misérables yang bersetting Perancis abad ke-19 mengisahkan tentang Jean Valjean (Hugh Jackman) seorang narapidana yang dihukum karena mencuri lalu dihukum selama 19 tahun. Disaat dia bebas, dia masih mendapat pengawasan dari seorang polisi bernama Javert (Russel Crowe). Delapan tahun kemudian dia menjadi walikota di salah satu kota. Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang wanita bernama Fantine (Anne Hathaway), yang akhirnya menitipkan ananknya kepadanya, Cosette (Isabelle Allen). Valjean pun terus menjanai hidupnya bersama Cosette dewasa (Amanda Seyfried), dia terus menemui banyak masalah dan tentu saja masih menghindari awasan Javiert.

Les Misérables yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Victor Hugo, telah banyak diangkat dalam berbagai bentuk, baik itu dalam bentuk musikal, film, atau yang lainnya. Nah kini tahun 2012 lalu seorang Tom Hooper kembali membuat filmnya, bedanya film ini dibuat dengan musikal. Yang mana setiap pemerannya harus menyanyikan dialognya secara langsung. Jelas merupakan sebuah tantangan yang sangat besar untuk Hooper. Namun ini tidak hanya tantangan untuk Hooper, tapi juga tantangan untuk para penonton apakah mereka mampu tetap bertahan melihat nyanyian orang satu kampung selama 2 jam lebih. Jika anda tidak tahan lebih baik tidak usah membuang uang anda untuk pergi menontonnya. Saya pun bisa dibilang sangat jarang menonton film musikal. Namun dengan ekspektasi yang cukup besar dan berharap mendapat pengalaman sinematis yang baru, saya pun menontonnya.

Naskah cerita Les Misérables yang ditulis secara keroyokan oleh William Nicholson, Alain Boublil, dan Claude-Michel Schӧnberg. Diawali dengan perkenalan beberapa karakter lalu diakhiri dengan momen rebellion, semuanya cukup enak ditonton. Namun jujur ada beberapa bagian dari film ini yang terasa membosankan dan tidak terlalu saya sukai. Misalnya pada saat nyanyian yang seharusnya bagus untuk di dialogkan saja seperti dialog-dialog pendek yang paling cuma satu sampai beberapa kata, tapi malah dipaksakan dinyanyikan. Yah untungnya Les Misérables dibalut dengan kualitas tata produksi kelas atas yang jempolan dengan setting tempat, kostum, make-up, gaya rambut, scoring-music serta art direction yang elegan sangat pas sesuai dengan zamannya. Lalu banyak juga shot-shot jarak pendeknya. Selain itu adanya unsur romansa cinta segi tiga antara Eddie Redmayne, Amanda Seyfried dan Samantha Barks dan unsur komedi dari Sacha Baron Cohen dan Helena Bonham Carter, cukup memberikan warna menarik untuk film ini. Sedikit mengobati kekurangan yang ada.

Jelas tidak mudah untuk membuat film musikal utuh tanpa dukungan performa jajaran cast-nya yang tampil bagus. Selain berakting tentu para cast juga harus bisa bernyanyi dengan bagus, agar setiap dialog alunan suara mereka jelas terdengar. Hugh Jackman yang saya kenal sebagai mutan bercakar adamantium secara mengejutkan diluar dugaan tampil apik, apalagi pada saat menyanyikan Suddenly, yang akhirnya lagu tersebut masuk nominasi best original song di Oscar ke-85. Lalu Anne Hathaway bermain dengan totalitas, puncaknya pada saat dia menyanyikan lagu I Dream a Dreamed, emosinya benar-benar sangat terasa dari setiap suara dan ekspresi yang dihantarkan Hathaway. Selain itu Samantha Barks dan Eddie Redmayne juga cukup mencuri perhatian saya, akting dan nyanyian mereka sedikit diatas cast pendukung lainnya saya rasa. Semua cast di film ini memang tampil bagus macam Russell Crowe, Amanda Seyfried, Helena Bonham Carter, Sacha Baron Cohen, hingga artis-artis cilik, sampai figurannya pun.

Secara keseluruhan Les Misérables adalah sebuah film full musical yang yang memang berbeda dari film musikal yang lain. Kualitas tata produksi kelas wahid, musikal yang megah, emosi jajaran cast-nya terhampar dengan sangat baik selama 157 menitnya. Dua jempol lah untuk Tom Hooper yang sudah berani mengonsep Les Misérables dengan musikal penuh secara langsung. Namun tetap saja Les Misérables bagi saya masih mempunyai nilai minusnya. So, dengan mengantongi 8 nominasi Oscar, termasuk best picture. Apakah tim juri Oscar terlalu berlebihan menyayangi film Tom Hooper yang satu ini.

8/10


No comments:

Post a Comment