December 16, 2012

FISFiC 6 Vol. 1 (2011)

FISFiC (Fantastic Indonesian Short Film Festival) adalah sebuah kompetisi film pendek yang berkutat pada genre fantastic (horror, thriller, sci-fi, fantasy). Kompetisi ini diprakarsai oleh sineas berbakat Indonesia; Sheila Timothy, Joko Anwar, Gareth H. Evans, The Mo Brothers – Timo Tjahyanto & Kimo Stamboel, Rusly Edi dan Ekky Imanjaya. Tujuan dari proyek ini tentu untuk memajukan dunia perfilman Indonesia terutama untuk genre fantastic.

Dari sekitar 400 peserta, terpilih 25 kelompok untuk mengikuti workshop selama 2 hari. Lalu akhirnya terpilihlah 6 kelompok finalis, yang mana film pendek mereka akan di produseri LifeLike Pictures dan akan diputar di INAFFF 2011 (Indonesia International Fantastic Film Festival) serta dirilis dalam bentuk DVD oleh Jive Collection. Keenam film pendek itu adalah Mealtime, Rengasdengklok, Reckoning, Rumah Babi, Effect dan Taksi.

Mealtime mengisahkan tentang beberapa sipir dan narapidana di sebuah rumah tahanan terpencil yang berusaha mempertahankan hidup mereka, setelah diserang dan dibunuh satu persatu oleh makhluk misterius pemakan isi kepala manusia. Film pendek yang disutradarai Ian Salim ini seperti terkesan terburu-buru. Itu mungkin dikarenakan durasi yang singkat, kurangnya waktu untuk memaparkan mengapa itu terjadi? Akting yang cukup meyakinkan juga diperlihatkan setiap karakternya, terlebih lagi Abimana Arya, membawa penonton turut ikut serta merasakan misterinya plus ditemani scoring yang bagus. Sebagai film pembuka, saya rasa Mealtime lumayanlah sebagai pemanasan untuk film selanjutnya. Dan satu lagi, ketika anda teliti menyadari nama ketiga karakter utamanya, mungkin anda akan tertawa.

Rengasdengklok yang bersetting tahun 1945 berkisah tentang peristiwa Rengasdengklok, yaitu usaha penyelamatan presiden Soekarno oleh pasukan Indonesia, ditengah perjalan mereka diserang oleh pasukan Jepang yang telah menjadi zombie. Zombie? Ya suatu yang perlu di apresiasi untuk perfilman lokal. Dibuka dengan animasi yang bagus. Ide cerita yang unik dan brilian, namun sayang dieksekusi dengan buruk. Yang paling kelihatan adalah dari jajaran cast-nya, akting yang buruk seperti bersikeras sedang mengafal dialog serta terlihat kaku dan canggung. Ya, saya tahu mereka bukanlah orang professional, itu bisa saya maklumi. Film yang di sutradarai Dion Widhi Putra dan ditulis oleh Yonathan Lim ini memang harus saya acungi jempol, karena akhirnya ada juga film Indonesia bertema zombie. Melihat presiden Soekarno menembaki zombie dengan dua pistol ditangannya, sesuatu yang sangat mengasyikkan. Tapi tetap, Rengasdengklok adalah yang terlemah di FISFiC 6 Vol. 1.

Reckoning yang disutradarai Zavera G. Idris ini bercerita tentang sepasang suami istri yang didatangi beberapa orang berjubah hitam yang sepertinya akan mengancam keselamatan mereka. Film pendek ini dibalut dalam nuansa hitam putih. Reckoning penuh dengan dialog-dialog bertele-tele yang disampaikan tokoh antagonisnya yang sama sekali tidak terlihat seperti sebuah ancaman yang berarti. Jujur, saya sempat merasa bosan menontonnya. Dan yang paling mengganggu saya adalah di beberapa bagian yang menggunaankan bahasa Inggris, akan lebih baik seandainya jika diberi subtitle Indonesia. Tapi terlepas dari kritikan diatas, Reckoning mempunyai nilai plus juga. Akting yang diperlihatkan Emil Kusumo dan Nicole Jiawen Lee sebagai suami istri benar-benar bagus dan total. Departemen akting terbaik untuk saat ini, jika dibandingkan dengan dua film sebelumnya.


Rumah Babi bercerita tentang Darto, seorang pembuat film dokumenter yang baru saja berhasil merekam kejadian kekerasan dan pemerkosaan di sebuah rumah China yang dikenal sebagai peternak babi di kampung. Ketika Darto kembali ke rumah babi untuk melakukan interview, dia menemukan  kenyataan yang tidak pernah dia duga, menyeretnya masuk ke dalam teror yang mengancam hidupnya sendiri. Film pendek yang disutradarai Alim Sudio ini benar-benar memanfaatkan setting rumah etnis Tionghoa dengan segala pernak-perniknya yang kental mampu menambah esensi seramnya plus segala macam kepercayaan agamisnya. Formula horror yang disuguhkan memang sudah basi, tapi malah terlihat sangat menyeramkan di Rumah Babi. Jika berbicara tentang intensitas keseramannya, Rumah Babi adalah yang terseram di film ini!

Effect bercerita tentang Eva seorang karyawati yang menginginkan bosnya mati, karena si bos selalu memandang sinis terhadapnya. Akhirnya pada suatu hari dia menemukan sebuah website effect.org lalu web tersebut menanyakan siapa orang yang dia inginkan mati. Eva pun menulis nama bosnya. Effect mempunyai ide cerita yang menarik. Saya suka sekali bagaimana Adriano Rudiman menggambarkan proses kematian sang bos dengan cara yang tidak biasa seperti sudah dipikirkan matang-matang. Sayangnya, sang sutradara terlalu berlama-lama membuat rentetan kejadian kematiannya, imbasnya ketegangan yang sudah terbangun dengan baik dari awal pun menjadi berkurang. Effect tidaklah seburuk itu, tetap film yang cukup bagus tapi dengan cerita yang menarik sekaligus ambisius itu jika dibuat lebih maksimal lagi mungkin akan memberikan efek lebih ke penontonnya.

Taksi bercerita tentang seorang wanita muda bernama Fina dalam perjalanannya pulang pada suatu malam.  Lalu dia menaiki taksi, dalam perjalanan pulang tersebut Fina bertemu dengan dua orang pemabuk yang juga ikut duduk bersamanya. Dan ternyata malam itu adalah malam terakhir bagi dua pemabuk itu. Last but not least. Seperti kebanyakan film omnibus yang selalu menyimpan film terbaiknya diakhir. Durasi Taksi memang paling pendek dari yang lain yaitu hanya 16 menit, tapi Taksi adalah yang paling bagus dalam kualitas tata produksinya. Akting kesemua karakternya sangat bagus, terlebih lagi Shareefa Daanish memerankan Fina benar-benar bermain sangat total. Setting ruang sempit ditambah suasana malam hari kota urban yang menambah sensasi ketegangannya. Ditambah lagi unsur teknisnya seperti scoring dan sinematografi yang bagus. Taksi yang disutradarai duet sutradara Arianjie AZ dan Nadia Yuliana ini adalah contoh film pendek dengan premis yang minimalis tapi dieksekusi dengan maksimal. Ini yang terbaik di FISFiC 6 Vol. 1.

Overall
7/10

No comments:

Post a Comment