January 19, 2013

The Perks of Being a Wallflower (2012)

Belakangan ini fenomena mengadaptasi sebuah novel ke film memang lagi sering-seringnya dilakukan sineas dunia. Tapi apa jadinya jika sang penulis novel itu sendiri yang menjadi sutradara dan penulis naskahnya, sesuatu yang masih sangat jarang sekaligus nekat dilakukan. Ini bisa jadi sebuah kemudahan bagi mereka namun bisa juga sebuah boomerang. Tapi Stephen Chbosky berkata lain, dia behasil melakukan itu untuk novel karyanya diangkat ke sebuah film dengan judul sama, The Perks of Being a Wallflower.

The Perks of Being a Wallflower mengisahkan tentang Charlie (Logan Lerman) yang sulit untuk menjalani hari-hari awalnya di SMA dilalui tanpa seorang teman dikarenakan susah bergaul. Yang padan awalnya hanya bertemna dengan guru bahsa Inggrisnya, Anderson (Paul Rudd). Sampai suatu hari dia bertemu dengan seniornya, Patrick (Ezra Miller) dan senior sekaligus saudari tirinya, Sam (Emma Watson). Mereka pun berteman, bersama dengan beberapa anak lainnya. Charlie yang pada awalnya seorang wallflower pun lambat laun mulai menjadi anak SMA yang normal, sampai akhirnya merasakan indahnya jatuh cinta pada seorang wanita.

Klise ‘kah ceritanya? Mungkin. Film-film ini benar-benar menggambarkan kehidupan remaja yang realistis dan sangat dekat, itulah yang membuat film ini begitu istimewa. Saya yakin para penonton yang menonton film ini pasti setidaknya pernah merasakan dan mengalami di beberapa bagian dari film ini, termasuk saya. Kisah suka duka masa remaja yang tidak jauh dari cinta dan persahabatan. Film ini juga mengangkat isu-isu di kebanyakan film sejenis seperti sex, drug, bully dan puluhan masalah lainnya yang menyangkut kegalauan masa remaja. Tentu saja film ini begitu bagus karena disutradarai oleh sang penulis asli novelnya sendiri, Stephen Chbosky, tentu dia tahu betul setiap lembaran novelnya itu untuk dimasukkan kedalam kisah romansa manis tanpa harus terlalu menggurui dan berlebihan.

Tentu keberhasilan ceritanya itu tidak lepas dari performa ketiga pemeran utamanya. Di jajaran cast hampir tidak ada yang mengecewakan, Logan Lerman sebagai Charlie seorang wallflower diluar dugaan bermain sangat bagus dan pas sekali untuknya, Emma Watson yang akhirnya bisa keluar dari Harry Potter tampil sangat menjiwai. Ezra Miller yang kita kenal sebagai Kevin si psikopat di We Need to Talk About Kevin tampil sebagai pemuda yang homoseksual berhasil membawakan perannya dengan gemilang. Serta pemain pendukung lainnya pun tidak kalah bagusnya membawakan peran mereka dengan baik. The Perks of Being a Wallflower juga memliki elemen pendukung yang sama bagusnya seperti sinematografi, tata artistik, dan referensi budaya serta lagu-lagu 90an keren pada zamannya yang semuanya sukses menambah esensi dalam menontonnya membawa kita mengingat kembali masa indah itu.

Film adaptasi novel yang ditulis dan disutradarai Chbosky ini sukses membuat saya mengingat kembali nostalgia pahit-manisnya masa SMA, kenakalan, jatuh cinta, perjalanan mencari sebuah kedewasaan pada masa itu untuk kesekian kalinya dengan sedikit komedi terhampar baik di sepanjang 102 menit membuat siapa saja yang menontonnya akan jatuh cinta dengan film ini. Ditambah dengan penampilan jajaran cast-nya yang ciamik membuat The Perks of Being a Wallflower menjadi sebuah tontonan rom-com yang menyenangkan.

9/10

No comments:

Post a Comment