January 22, 2014

Blackfish (2013)

“They’re not your whales. They own them!”

Blackfish memfokuskan ceritanya pada seekor ikan paus atau killer whale atau orca bernama Tilikium. Tilikium adalah salah satu orca yang menjadi artis petunjukan dia SeaWorld. Yang mana suatu hari muncul kabar bahwa Tilikium telah menyebabkan kematian yang merenggut nyawa dari pelatihnya sendiri bernama Dawn Brancheau. Insiden ini pun memunculkan dua argumen berbeda mengenai penyebab dari peristiwa tersebut. Yang manakah yang benar diantara dua argumen itu?

Disutradarai oleh Gabriela Cowperthwaite dengan naskahnya ditulis bertiga bersamanya Eli Depres dan Tim Zimmermann. Blackfish adalah sebuah film dokumenter yang menitikkan pada persoalan abu-abu killer whale atau orca. Bagaimana  dokumenter ini membongkar rahasia-rahasia yang selama ini ditutupi dibalik praktik pertunjukan manisnya. Bagaimana dimulai dari proses penangkapannya di laut lepas ribuan kilometer sana yang keji sampai pada proses training untuk dilatih beberapa trik-trik gerakan agar bisa menghibur para penontonnya. Bahkan kerap kali orca diperlakukan dengan keras hingga tidak diberi makan sebagai sebuah bentuk hukuman karena mereka yang memberi performa buruk. Dibalik kelihatan luarnya yang memang bersahabat dan lucu, orca ternyata bisa merenggut nyawa manusia. Orca diketahui adalah hewan bersahabat dan sensitif, dia dapat sewaktu-waktu merasa bosan, frustasi, sedih hingga marah. Sejumlah kasus menyebutkan bahwa orca-orca ini menyerang manusia karena mereka yang berubah buas. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa kasus ini terjadi murni karena kecelakaan si trainernya saja, bukanlah salah orca.

Lantas ini menimbulkan satu pertanyaan menarik; siapa yang salah sebenarnya? Siapa penjahat sebenarnya? Jika anda menjawab orca, maka ini memunculkan satu pertanyaan menarik lagi. Kenapa para orca-orca bisa sampai berbuat jahat. Jawabannya adalah karena kita mengganggu hidup mereka, mengganggu habitat mereka, membuat mereka terpisah dengan keluarga mereka. Sehingga para orca-orca itu memiliki masa-masa kelam dan frustasi yang nantinya itu bisa saja meledak karena telah lama memendam perasaan kelam itu, yang akhirnya berakibat dengan penyerangan. Dan ini tentu tidak hanya berlaku pada orca saja, namun juga hewan-hewan lain seperti lumba-lumba dan singa laut (even topeng monyet sekalipun). Penceritaan Blackfish pun semakin akhir merembet ke daerah hukum. Semua itu terangkum dengan efektif namun begitu detail lewat rekaman-rekaman serta interview dari narasumber ahli. Sebagai sebuah dokumenter, Blackfish bagus. Saya seperti turut ikut terlibat. Saya ikut berargumen siapa yang salah, siapa yang benar. Berhasil menjaga intensitas cerita stabil sampai akhir. Emosi penonton yang terjaga rapi. Pengumpulan data-data yang lengkap. Ditambah lagi dengan hiasan aspek teknisnya seperti di beberapa bagian yang reka ulang kejadian disajikan dengan animasi sederhana. Atau editing tatanan Eli Despires yang halus. Serta diisi scoring music arahan Jeff Bell yang menyayat hati dengan setia mengontrol emosi penontonnya. Oh iya, ada satu trivia menarik seputar Blackfish; John Lasseter dan Andrew Stanton dari Pixar memutuskan mengganti ending cerita dari Finding Dory yang rilis 2016 nanti setelah menonton film Blackfish.

Secara keseluruhan Blackfish adalah sebuah film dokumenter yang bagus. Bagaimana sang sutradara Gabriela Cowperthwaite mengusung sebuah misi tersendiri lewat cerita tentang hitam putih hewan orca yang akhirnya banyak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan menarik.  Baik atau jahat? Siapa yang salah? Bagimana menguak fakta-fakta yang selama ini ditutupi tersaji lengkap baik itu dari footage atau interview, tidak pernah kehilangan daya tariknya dalam durasi 83 menitnya.

8/10


No comments:

Post a Comment