January 23, 2014

Blue Jasmine (2013)

“Anxiety, nightmares and a nervous breakdown, there’s only so many traumas a person can withstand until they take to the streets and start screaming.” – Jasmine

Blue Jasmine mengisahkan tentang Jeanette “Jasmine” Francis (Cate Blanchett) seorang wanita yang telah ditinggal suaminya yang kaya raya karena suatu kasus, Hal (Alec Baldwin). Meninggalkan Jasmine dengan tanpa rumah dan uang. Jasmine pun tinggal sementara dengan saudarinya, Ginger (Sally Hawkins). Mulai saat itulah Jasmine mencoba untuk move on dari keterpurukan masa lalunya yang kelam itu. Dia mencoba untuk mencari pekerjaan dan pasangan hidup baru.

Film ini disutradarai oleh seorang sutradara yang begitu produktif yang mana hampir setiap setiap tahun selalu menelurkan film, namun karya-karyanya naik turun secara kualitas, ya Woody Allen. Di Blue Jasmine juga sekaligus bertindak menulis screenplay-nya. Tidak ada sesuatu yang baru dari film teranyar Allen ini, masih mengusung beberapa pakemnya seperti di filmnya sebelumnya. Tapi Allen berhasil mengelola materi yang sederhana itu dengan baik. Memfokuskan ceritanya terhadap karakter Jasmine melalui studi karakter darinya yang tengah move on dari kerapuhan. Mengusung cerita yang sederhana namun efektif menghasilkan masalah-masalah kecil kompleks. Punya warna cerita yang ceria namun juga depresif disaat bersamaan. Alur ceritanya bergerak maju mundur, dengan beberapa flashback yang berpadu serasi silih berganti dengan kejadian masa kininya. Bagian-bagain dramanya yang dibumbui komedi dengan pas, tanpa harus terlihat tumpang tindih dan jatuh terlalu jauh ke zona komedi. Punya dereten dialog-dialog cerdas yang kuat, mulai dari perdebatan hinggan selipan komedinya.

Dibalik tone ceritanya yang ceria namun sebenarnya gelap itu juga tersimpan sebuah satir sosial tentang kehidupan sosialita. Nyawa dari film ini adalah terletak pada kekuatan karakterisasi si pemeran utamanya. Cate Blanchett memerankan tokoh Jasmine dengan sangat baik. Memerankan sosok membaginya di dua masa. Ketika melakukan kilas balik yakni di masa lalu, karakter Jasmine adalah sosok wanita yang kaya raya dan bersahaja. Namun dimasa sekarang sosok Jasmine kebalikannya; miskin, rapuh, dan depresif. Ada momen-momen dramatis yang dimanfaatkan dengan baik oleh Cate Blanchett mengeluarkan seluruh performa terbaiknya. Memang bukan berlebihan jika kritikus luar sana mengatakan bahwa Cate di gadang-gadang akan meraih piala keduanya, dia sebagai yang terkuat di Oscar nanti pada kategori Best Actress. Tampil menyeimbangkan penampilan Cate beberapa supporting macam Sally Hawkins – juga dinominasikan di Best Supporting Actress – Alec Baldwin, Bobby Cannavale, Peter Sarsgaard dan Louis C. K.. Bicara aspek teknis, mulai dari editing tatanan Alisa Lepselter yang dengan baik menyambung benang merah gambar-gambarnya antara masa lalu dan masa kini tanpa harus terlihat membingungkan. Dan musik-musik jazz yang setia mengiringi satu setengah jam lebih durasinya.

Secara keseluruhan Blue Jasmine adalah film drama yang memuaskan. Bagaimana Woodly Allen sekali lagi memberikan sebuah cerita yang sederhana namun berhasil dikembangkannya dengan maksimal membentuk masalah-masalah kecil namun menarik. Sajian drama yang berpadu dengan komedi khasnya tanpa harus kehilangan esensi drama itu sendiri. Dan bagaimana karakterisasi kuat dan akting fantastis  dari Cate Blanchett memerankan sosok Jasmine yang multi karakter dengan sangat baik. Semua itu tersaji dalam 89 menit durasinya.

8/10


No comments:

Post a Comment