Pages

January 25, 2014

Blue Is the Warmest Color (2013)

Satu-satunya alasan bahwa saya ingin menonton film ini adalah adanya fakta bahwa film ini berhasil meraih Palme d’Or yakni film terbaik di Cannes Film Festival 2013, Blue Is the Warmest Color.

Blue Is the Warmest Color mengisahkan tentang seorang gadis bernama Adèle (Adèle Exarchopoulos) seorang yang polos terhadap cinta. Dia pun mencoba berpacaran dengan teman lelaki di sekolahnya, Thomas (Jeremie Laheurte). Namun dia tidak merasakan suatu gejolak cinta yang dalam. Sampai suatu hari Adèle pergi ke sebuah gay bar, disana dia bertemu dengan seoran gadis tomboy bernama Emma (Léa Seydoux). Mereka berdua pun semakin dekat dan akhirnya tumbuh rasa cinta diantara mereka.

Film yang berjudul Perancis La Vie d’Adèle – Chapitres 1 & 2 ini disutradarai oleh Abdellatif Kechiche yang juga sekaligus menulis screenplay-nya bersama Ghalia Lacroix mengadaptasi dari novel grafik berjudul sama karangan Julie Maroh. Film mengisahkan tentang perjalanan hitam putih hubungan percintaan sesama jenis antara Adèle dan Emma. Namun ini jauh dari sekedar kisah romansa, ini jauh lebih ke arah kisah coming-of-age. Bagaimana seorang gadis yang tengah tumbuh dewasa, mencari jati dirinya, dan merasakan pengalaman kisah cinta serba pertama. Lalu disaat gadis ini sudah nyaman dengan kondisinya sekarang terperangkap dalam gejolak cinta yang tidak semestinya, dia pun terjebak dalam zona nyamannya sendiri yang justru itu memberikan sesuatu yang kompleks nantinya. Blue Is the Warmest Color memulainya dengan sabar, memberikan kita ruang untuk mengenal terlebih dahulu sosok gadis cantik Adèle. Perlahan namun pasti dia mulai mengeluarkan taji ceritanya. Arah kisah romansanya cukup gampang ditebak, yang mana faktor kecemburuan menjadi penyebab masalah. Akhirnya muncul suatu permasalahan yang emosional.

Sesuai judul Perancis-nya yang berarti The Life of Adèle – Chapter 1 & 2, Blue Is the Warmest Color seperti membagi ceritanya menjadi dua. Chapter pertama ketika mereka yang masih dilanda rasa asmara yang tinggi mulai dari pendekatan hingga akhirnya jadi. Dan saya merasakan adanya transisi ke chapter kedua ketika warna rambut Emma tidak membiru lagi, ceritnya pun mulai dibumbui masalah-masalah. Berani dan kontroversial, dua kata tersebut cukup mewakili gambaran satu sisi film ini. Ya selain fakta bahwa film ini mengenai romansa sesama jenis, Blue Is the Warmest Color sarat dengan kevulgarannya yang mana dia punya segudang adegan seks yang diperlihatkan secara gamblang dalam tiga jam durasinya. Adegan ranjang dua gadis ini diperlihatkan sangat frontal dan eksplisit. Namun bagian erotis itu bukannya menjadikannya menjijikan, justru membuat suatu kesan untuk menggambarkan bahwa hasrat cinta antara mereka berdua begitu kuat dan besar. Dan tentu saja setiap adegan itu tidak akan terlihat begitu membuai jika tidak diperankan oleh cast yang punya totalitas dan komitmen yang tinggi. Adèle Exarchopulos dan Léa Seydoux bermain sangat bagus, tampil dengan chemistry yang terjalin kuat dan begitu meyakinkan.

Secara keseluruhan Blue Is the Warmest Color (La Vie d’Adèle – Chapitres 1 & 2) adalah sebuah romantic coming-of-age yang bagus. Bagimana Abdellatif Kechiche sang sutradara menyuguhkan sebuah kisah yang intim, erotis, manis dan depresif mengenai cerita pendewasaan seorang gadis melalui hubungan pahit manis percintaan sesama jenisnya yang dibalut dengan konten seksualnya yang tinggi. Apalagi ditambah dengan penampilan terbaik dari dua aktrisnya; Adèle Exarchopulos dan Léa Seydoux yang bermain begitu total dalam durasi 179 menitnya.

8/10


No comments:

Post a Comment